The post 3 Alasan Kenapa Kamu Selalu Gagal Menabung, Apalagi Investasi appeared first on EduFulus - The Path To Financial Freedom.
]]>Menabung memiliki banyak manfaat, salah satunya adalah persiapan keuangan untuk masa depan. Namun, kenyataannya, banyak di antara kita yang meremehkan pentingnya menabung. Terkadang, pendapatan yang kita terima langsung dihabiskan, dan jika ada sisa, barulah kita berpikir untuk menabung.
Meskipun manfaat dari memiliki tabungan sudah banyak diketahui, faktanya masih banyak yang kesulitan dalam memilih jenis tabungan yang sesuai dengan tujuan keuangan mereka.
SIMAK JUGA: Hidup Sejahtera Tanpa Harus Keras Bekerja
Ada beberapa alasan mengapa banyak dari kita sulit untuk menabung, salah satunya adalah pengelolaan uang yang kurang tepat.
Artikel ini akan menjelaskan tiga alasan mengapa mungkin kita sering kesulitan untuk menabung, apalagi investasi:
Seringkali, orang dengan pendapatan yang besar cenderung menghabiskan lebih banyak uang. Hal ini sering dipengaruhi oleh gaya hidup yang semakin modern dan ketersediaan fasilitas yang lebih baik dalam masyarakat.
SIMAK JUGA: 5 Alokasi Uang THR Natal di Tengah Pandemi Covid-19
Akibatnya, pendapatan yang diterima seringkali digunakan untuk belanja dan hiburan, dan jika tidak terkontrol, ini dapat mengarah pada kesulitan keuangan saat harus membayar tagihan dan hutang.
Banyak orang menyadari pentingnya menabung atau investasi, tetapi seringkali menunda-nunda karena mereka merasa pensiun masih jauh. Padahal, menabung tidak hanya untuk pensiun tetapi juga untuk menghadapi situasi tak terduga seperti kecelakaan, sakit, atau pemutusan hubungan kerja.
Oleh karena itu, penting untuk mulai menabung sekarang tanpa menunda-nunda lagi.
Ketika mendapatkan bonus atau tambahan pendapatan, reaksi alami bagi banyak orang adalah untuk menghabiskannya dengan berbelanja. Perilaku konsumtif seperti ini berisiko dan jika terus dibiarkan, kita akan selalu merasa perlu menghabiskan uang ekstra, yang dapat mengakibatkan pemborosan.
Jika kita tidak memiliki rencana keuangan jangka panjang, kita mungkin akan enggan untuk menabung, apalagi investasi. Oleh karena itu, penting untuk mulai merencanakan keuangan jangka panjang mulai dari sekarang.
SIMAK JUGA: 5 Alasan Mengapa Dana Pensiun di Hari Tua Itu Wajib Ada
The post 3 Alasan Kenapa Kamu Selalu Gagal Menabung, Apalagi Investasi appeared first on EduFulus - The Path To Financial Freedom.
]]>The post Hidup Sejahtera Tanpa Harus Keras Bekerja appeared first on EduFulus - The Path To Financial Freedom.
]]>Mencapai kebebasan secara finansial itu pada dasarnya bukan perkara gampang. Pasalnya, tatkala kita masih bekerja dan menumpukan seluruh hidup dari gaji, dengan gaji segede apa pun, sebenarnya kita belum masuk kategori sejahtera. Seandainya kehilangan pekerjaan maka tak dapat dipungkiri kondisi keuangan akan terganggu.
Kalau begitu sejahtera itu sama saja dengan kaya raya dong? Salah besar! Sejahtera itu bukan soal kaya-raya dan memiliki aset yang banyak, melainkan saat kebutuhan-kebutuhan hidup bisa dipenuhi dengan penghasilan pasif (passive income).
Cara berpikirnya seperti ini. Jika kita memiliki kebutuhan hidup Rp10.000.000,- perbulan dan kebutuhan tersebut bisa dipenuhi dengan penghasilan pasif misalkan dari investasi sebesar Rp15.500.000,- berarti kita sudah tergolong sejahtera atau mencapai kebebasan finansial, bahkan ada sisa.
Tapi seandainya penghasilan pasif kita masih di bawah kebutuhan hidup, berarti kita belum mencapai apa yang dinamakan dengan kebebasan finansial.
Pertanyaannya kini, bisakah kita mencapai kebebasan secara finansial? Yup, hidup sejahtera itu bukan hanya di zona mimpi. Semua bisa menggapainya, yakni dengan menambah aset yang menghasilkan pendapatan pasif, misalkan dengan investasi saham yang kini familiar dengan sebutan nabung saham.
Pada dasarnya, saham itu berkah, tak hanya bagi perusahaan-perusahaan yang go public dalam hal kemudahan untuk pendanaan, tetapi juga bagi masyarakat umum yang menjadi investor, yakni yang membeli saham dan menjadi pemilik dari perusahaan-perusahaan tersebut.
Saham menjadi berkah bagi masyarakat umum karena sebagai pihak yang mengoleksi saham, masyarakat tak hanya mendapatkan dividen dari perusahaan, tetapi juga potensi kenaikan harga saham yang pergerakan rata-rata seluruh saham (Indeks Harga Saham Gabungan – IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) dalam kurun waktu 10 tahun terakhir tertinggi di dunia.
Investasi saham menjadi salah satu jalan bagi semua lapisan masyarakat untuk mencapai kesejahteraan hidup karena nabung saham saat ini sangat mudah dan terjangkau.
The post Hidup Sejahtera Tanpa Harus Keras Bekerja appeared first on EduFulus - The Path To Financial Freedom.
]]>The post Mereview Target Keuangan yang Tak Tercapai appeared first on EduFulus - The Path To Financial Freedom.
]]>Lebih dari sekadar menginventaris semua target yang tak tercapai, bijak kiranya dikenali kendala yang menyebabkan target tersebut tak terwujud.
Tak bisa dipungkiri, target-target pribadi yang dicanangkan di awal 2022 bisa jadi terkait dengan hal-hal konkret yang membutuhkan pendanaan, semisal liburan ke luar negeri, beli kendaraan, memiliki rumah sendiri, dan masih banyak lagi. Target yang membutuhkan dana (uang) ini tidak terwujud tentunya karena terkendala soal ketersediaan dana.
Berbicara soal ketersediaan dana, baik juga bertanya pada diri sendiri, sudah sebagus apa sih pengelolaan keuangan pada 2022 lalu? Sudahkah pengelolaan keuangan dilakukan bijak, realistis, dan terarah pada target-target yang diinginkan?
Jangan-jangan selama 2012 kita belum tepat dalam mengelola uang sehingga target-target yang telah dicanangkan masih sebatas mimpi hingga di awal 2023 ini.
Sebenarnya, dari semua pertanyaan di atas, hanya ada satu pertanyaan paling mendasar yang perlu dijawab terkait pengelolaan uang selama ini, yakni sudahkah mengelola dan mengembangkan uang yang dimiliki dengan benar?
So, jangan parkir uang yang dimiliki di bank begitu saja lalu terdepresiasi. Investasikanlah uang yang dimiliki untuk mendapatkan imbal hasil (return) yang ideal. Investasi menjadi salah satu cara menggapai setiap target yang dicanangkan tercapai lebih cepat dibanding mendiamkan begitu saja uang yang dimiliki di tabungan konvensional.
Ada banyak pilihan investasi yang bisa dijadikan sebagai kendaraan mulai dari reksa dana, properti, emas hingga saham. Namun dari semuanya ini, hanya satu yang paling mudah dan terjangkau untuk dinikmati serta tepat untuk pemula, yakni investasi reksa dana.
Investasi reksa dana yang memberikan imbal hasil di atas bunga tabungan konvensional dan deposito bisa dinikmati secara online di supermarket reksa dana online yang telah ada. Selain sudah online, investor juga tinggal duduk manis menunggu imbal hasil karena sudah ada manajer investasi yang mengelola uang yang telah diinvestasikan di reksa dana yang terbaik.
Selain mudah, investasi reksa dana juga terjangkau karena dengan modal awal Rp.100.000 saja, investor pemula sudah bisa menikmati imbal hasil yang akan mempercepat pencapaian target-target 2023 ini.
Dus, wujudkan target-target 2023 lebih cepat dengan investasi reksa dana sebagai langkah awalnya. Selamat berinvestasi!
The post Mereview Target Keuangan yang Tak Tercapai appeared first on EduFulus - The Path To Financial Freedom.
]]>The post Gengs, Inilah Arti Kemerdekaan Finansial di Bulan Kemerdekaan RI appeared first on EduFulus - The Path To Financial Freedom.
]]>Sudah menjadi tradisi ketika hari besar ini tiba, banyak pertanyaan yang dilontarkan terkait arti dan makna kemerdekaan. Rumusan umum yang kerap dijumpai yakni apakah kita sudah merdeka?
Pertanyaan ini lantas dikerucutkan ke sejumlah bidang, seperti dalam rumusan sudah merdeka kah kita di bidang ekonomi, politik, keamanan dan sebagainya, tak terkecuali juga dalam dalam hal keuangan. Adapun rumusan pertanyaan yang kerap kita dengar di sektor keuangan ini, yaitu sudahkah kita merdeka secara finansial?
Pertanyaan ini selalu aktual untuk direfleksikan begitu HUT Kemerdekaan RI tiba. 77 tahun merdeka bukan lah usia yang singkat. Tapi berapa persenkan dari sekitar 260 juta populasi Indonesia yang sudah merasa merdeka secara keuangan? Tentu saja, masih sangat kecil.
Nah, karena padanan kata kemerdekaan itu salah satunya adalah kebebasan maka tak mengherankan istilah kemerdekaan keuangan pada kesempatan yang lain disebut juga dengan kebebasan keuangan. Lantas seperti apakah seseorang yang merdeka atau bebas secara finansial?
Kebebasan keuangan atau financial freedom, menurut pakar keuangan asal Amerika, Robert T. Kiyosaki, bukan kaya dan bukan memiliki harta berlimpah. Kebebasan keuangan itu adalah kondisi bebas alias benar-benar bebas menjadi diri sendiri dan benar-benar bebas menjalankan hal-hal yang disukai.
Sayangnya, menurutnya, tidak semua orang bisa mencapainya. Kebebasan keuangan hanya bisa dicapai oleh orang-orang yang mau belajar dan bekerja untuk mencapai kebebasan keuangan karena ini adalah suatu level kehidupan dimana seseorang dapat menjalani kehidupan tanpa perlu berpikir darimana datangnya uang untuk menutup pengeluaran bagi kebutuhan hidup yang diinginkan.
So, kebebasan keuangan tidak berarti memiliki pendapatan yang besar hingga tabungan atau deposito yang besar, tetapi sejatinya memiliki sumber penghasilan pasif yang terus-menerus lah yang utama. Satu hal yang pasti, sumber pengeluaran seseorang bukan dari tabungan, melainkan dari penghasilan pasif yang datang terus-menerus mengalir ke rekening.
Konkretnya, kebebasan finansial bisa tercapai lebih cepat bila kita mampu membangun aset lebih cepat. Salah satu cara membangun aset dengan cara cepat sekaligus efektif melawan laju inflasi adalah dengan memulai investasi sedini mungkin
Well, salah satu cara untuk membangun aset sehingga bisa memiliki penghasilan pasif tersebut, yakni dengan melakukan investasi saham di pasar modal yang kini makin mudah dan gampang karena sudah serba online.
The post Gengs, Inilah Arti Kemerdekaan Finansial di Bulan Kemerdekaan RI appeared first on EduFulus - The Path To Financial Freedom.
]]>The post Perempuan, Saatnya Merdeka dari Belenggu Stereotip Gender appeared first on EduFulus - The Path To Financial Freedom.
]]>Secara finansial, tidak sedikit perempuan Indonesia masih hidup dalam bayang-bayang stereotip gender yang cenderung menstigma bahwa perempuan secara finansial banyak bergantung pada laki-laki.
Stereotip maskulinitas dan otorisasi dalam keuangan, salah satunya karena adanya sistem kekerabatan patrilineal yang masih kental dan mengakar kuat dalam masyarakat. Padahal, dewasa ini urusan kemandirian keuangan di kalangan perempuan sudah tidak perlu diragukan lagi.
SIMAK JUGA: Inflasi “Pencuri” Uang Kita di Tabungan
Contoh konkret untuk urusan investasi, skill perempuan sebenarnya juga tidak kalah bagus dengan kaum Adam dalam mendulang cuan. Tapi apa mau dikata, stereotip gender nyata-nyata masih melekat sehingga secara sosial merugikan kaum Hawa.
Diketahui, stereotip adalah penilaian terhadap seseorang hanya berdasarkan persepsi terhadap kelompok di mana orang tersebut dapat dikategorikan. Stereotip merupakan jalan pintas pemikiran yang dilakukan secara intuitif oleh manusia untuk menyederhanakan hal-hal yang kompleks.
Pada dasarnya stereotip dapat berupa prasangka positif atau negatif. Namun tak jarang, prasangka justru dijadikan alasan untuk melakukan tindakan diskriminatif, seperti diskriminasi terkait disposisi perempuan dalam hal keuangan ini.
Karena stereotip gender inilah perempuan terbelenggu. Makanya, perlu daya dan upaya nyata untuk mencapai kemerdekaan finansial sebagaimana digagas oleh Robert T. Kiyosaki yang mengelaborasi arti kemerdekaan finansial secara mendalam. Kemerdekaan finansial dalam alur pikirannya bukan dalam gambaran orang yang kaya-raya yang bergelimang harta.
Merdeka dalam konteks keuangan adalah kondisi bebas yang benar-benar bebas menjadi diri sendiri dan benar-benar bebas menjalankan hal-hal yang disukai. Sayangnya, tidak semua perempuan bisa mencapainya.
Satu hal yang perlu ditekankan di sini, kemerdekaan finansial hanya bisa dicapai oleh mereka yang mau belajar dan bekerja untuk mencapai kebebasan keuangan, karena ini adalah suatu level kehidupan dimana seseorang dapat menjalani kehidupan tanpa perlu berpikir darimana datangnya uang untuk menutup pengeluaran.
SIMAK JUGA:Inilah Sekuritas Terbaik dan Terpercaya Berdasarkan Total Volume Trading Terbanyak
Dengan kata lain, kemerdekaan finansial tak sesempit pada pendapatan yang besar, tabungan, dan deposito yang besar. Kemerdekaan finansial merujuk pada sumber penghasilan pasif yang terus-menerus. Adapun sumber pengeluaran itu bukan dari tabungan, melainkan dari penghasilan pasif yang datang terus-menerus mengalir ke rekening.
Penghasilan pasif tersebut tentunya berada di ranah dimana uang telah bekerja dengan sendirinya. Kemerdekaan tercipta karena uang telah bekerja untuk kita.
Nah, salah satu cara untuk membangun aset sehingga bisa memiliki penghasilan pasif tersebut, yakni dengan melakukan investasi di pasar modal yang kini makin mudah dan gampang karena sudah serba online.
Langkah paling gampang untuk merdeka secara finansial yakni dengan mengubah pola pikir saving ke investment society dengan investasi reksa dana, karena investasi reksa dana termasuk instrumen investasi yang paling mudah dan cocok untuk pemula.
Reksa dana menjadi alternatif kece bagi para perempuan masa kini karena sangat mudah dan terjangkau. Setelah membeli reksa dana mereka tinggal duduk manis menunggu kinerja Manajer Investasi (MI). Dari sisi keterjangkauan, dengan modal cukup ratusan ribu alias nggak sampai jutaan, para perempuan Indonesia sudah bisa menikmati imbal hasil (return) yang lebih tinggi dibanding bunga deposito. Perempuan, saatnya merdeka secara finansial dengan reksa dana.
SIMAK JUGA: 4 Risiko Ini Wajib Dipahami Sebelum Kamu Terjun ke Investasi Saham Syariah
The post Perempuan, Saatnya Merdeka dari Belenggu Stereotip Gender appeared first on EduFulus - The Path To Financial Freedom.
]]>The post Investasi Jangan Pakai Uang Utang, Ini Lho Rasio Utang yang Ideal appeared first on EduFulus - The Path To Financial Freedom.
]]>Ketika merugi, jadi double kerugiannya. Istilahnya, udah jatuh ketimpa tangga pula. Udah rugi karena sahamnya jatuh, lagi-lagi harus bayar utang dan bunganya. Sedihnya tuh di sini.
Memang sih, setiap orang menginginkan kehidupan yang nyaman dan bahagia, tapi tidak juga ambil risiko dengan utang untuk investasi keles. Justru, setiap kita sebaiknya bebas dari utang jika ingin hidup nyaman dan bahagia.
SIMAK JUGA: Tujuan Investasi Itu Sebaiknya Konkret, Ini 4 Alasannya
Banyak dari kita tentu tak ingin terbebani utang, meski kenyataan hidup kerap berbicara lain. Namun toh, banyak dari kita tak bisa mengelak dari yang namanya utang.
Pertanyaannya kini, sebenarnya kita itu boleh utang atau tidak sih dari sudut pandang ilmu keuangan? Kalau pun ternyata diperbolehkan, berapa sebenarnya jumlah ideal utang yang dianjurkan? Dua pertanyaan ini tak jarang menghinggapi kita, tak terkecuali anak-anak muda yang hendak melangkah ke jenjang pernikahan.
Berbicara soal utang, para pakar keuangan kompak menegaskan kalau utang itu boleh-boleh saja asal tahu batasannya. Utang tidak dilarang, tetapi memang harus bijak dalam prakteknya karena menyangkut pengelolaan keuangan secara cerdas biar tidak mendatangkan dampak buruk.
SIMAK JUGA: 4 Keuntungan Investasi Sejak Usia Dini Mulai Saat Ini Juga
Pengelolaan uang secara cerdas penting agar kondisi keuangan benar-benar sehat dan kebutuhan hidup terpenuhi sebagaimana mestinya. Utang memang bisa menjadi solusi keuangan, tetapi tak dapat dipungkiri bisa pula menjadi risiko keuangan tatkala kita gagal memenuhi kewajiban untuk membayar kembali.
Ibarat pisau bermata dua, utang bermanfaat bagi yang pandai dan bijak dalam penggunaannya, namun bisa mencelakakan, jika tak pandai dan sembrono. Oleh sebab itu, ada dua prinsip mendasar yang perlu diperhatikan dalam hal utang:
Pertama, tujuan utang bukan untuk sesuatu yang sifatnya konsumtif. Utang akan bermanfaat untuk hal-hal yang sifatnya produktif dan memiliki nilai investasi, tapi tapi tidak untuk investasi di pasar modal. Ingat, investasi harus pakai uang dingin, bukan uang panas. Utang itu itu termasuk uang panas.
Kedua, disesuaikan dengan kemampuan finansial. Jangan sampai utang mengganggu pemenuhan kebutuhan finansial bulanan.
SIMAK JUGA: Tip Mengatur Cash Flow Keuangan dari Sosok Ibu
Berpegang pada dua prinsip di atas, rasio utang ideal yang umum diketahui yakni total cicilan perbulannya yang tidak boleh melebihi 1/3 (sepertiga) dari penghasilan bersih perbulan. Selain untuk meminimalkan risiko gagal bayar, batasan ini dimaksudkan agar pemenuhan kebutuhan hidup bulanan masih bisa terpenuhi secara wajar dengan 2/3 (dua pertiga) penghasilan bulanan.
Batasan utang ini tentu sejalan dengan penjabaran strategi alokasi penghasilan: 50-30-10-10 dengan rincian, 50 persen anggaran untuk kebutuhan pokok (tagihan listrik, biaya sehari-hari, hingga tagihan air), 30 persen bayar utang (cicilan rumah, cicilan mobil, pinjaman dari bank, hingga pinjaman dari teman atau keluarga), 10 persen tabungan atau investasi, dan 10 persen dana darurat.
Dari strategi di atas terlihat jelas bahwa meski memiliki alokasi penghasilan untuk pembayaran utang sebesar 30 persen, keuangan terlihat sehat karena seperti tabungan atau investasi (10%) tidak ditiadakan. Begitulah, investasi memang tidak boleh ditiadakan.
Investasi sangat penting untuk menopang nilai uang di masa depan agar tidak tergerus atau tertekan inflasi. Investasi, entah reksa dana atau saham, penting untuk menopang pemenuhan kebutuhan-kebutuhan di masa depan. So, utang itu boleh-boleh saja asal tahu batasannya dan tidak untuk investasi. Untuk investasi sebaiknya menggunakan uang nganggur atau uang dingin.
SIMAK JUGA: Belajar Mengelola Gaji di 5 Pos Utama Ala Superman Asia Li Ka-Shing
The post Investasi Jangan Pakai Uang Utang, Ini Lho Rasio Utang yang Ideal appeared first on EduFulus - The Path To Financial Freedom.
]]>The post Tip Mengatur Cash Flow Keuangan dari Sosok Ibu appeared first on EduFulus - The Path To Financial Freedom.
]]>Karena itulah, banyak ibu di dunia ini memiliki kemampuan mumpuni dalam mengelola uang. Mereka ini ibarat direktur keuangan di sebuah perusahaan.
Para ibu yang bijak biasanya memiliki pengelolaan keuangan yang benar karena meyakini kalau hal ini akan mendatangkan keharmonisan dan kebahagiaan dalam keluarga. Bukan rahasia lagi, isu finansial kerap menyebabkan banyak konflik dalam rumah tangga.
SIMAK JUGA: Reksa Dana untuk Kemerdekaan Finansial Perempuan Indonesia
Keharmonisan tercipta karena ibu pada umumnya memiliki kepekaaan yang tinggi terhadap pemasukan dan pengeluaran keuangan yang berada di bawah pengawasannya.
Nah, di era serba otomasi sekarang ini, siapa pun dituntut untuk lebih cerdas mengelola segala sumber daya yang dimilikinya termasuk keuangan. Karena itulah, belajar resep mengelola duit dari sosok ibu itu sangat penting.
Ibu yang smart dalam pengelolaan keuangan biasanya mengatur cash flow dengan tepat sesuai dengan pos-pos pengeluaran yang dirancang sehingga alokasi apa pun sudah terencana dan tidak tercampur dengan pengeluaran yang lain. Alokasi dana pun lebih tepat sesuai kebutuhan (needs) dan bukan keinginan (wants).
Selain itu, ibu yang smart biasanya berusaha bebas utang dengan cepat. Makanya, mereka ini kalau berutang punya komitmen dan disiplin dalam pembayaran cicilan. Di sisi lain, ibu yang smart siap sedia juga menghadapi hal-hal yang tak terduga dengan dana darurat.
SIMAK JUGA: Inilah Kisaran Return Tahunan Reksa Dana yang Perlu Kamu Tahu
Seorang ibu yang smart biasanya juga berpikir jauh ke depan sehingga kadang terkesan irit. Padahal, di balik kesan iritnya itu ia sebenarnya sedang menyiapkan masa depan yang cerah untuk putra-putri tercintanya, yakni dengan investasi.
Ibu yang bijak tidak mengabaikan yang namanya investasi. Minimal 10% dari pendapatan bulanan keluarga diinvestasikan, entah deposito, emas, bisnis, properti maupun reksa dana.
Pengelolaan yang demikian ini tentu layak diteladani. Toh, investasi apa pun saat ini sudah lebih mudah dan transparan serta terjangkau. Pun dalam investasi reksa dana, siapa pun kini sudah bisa menikmatinya secara online. Reksa dana banyak diperjualbelikan secara online.
SIMAK JUGA: Tip dan Jenis Investasi yang Paling Cocok Buat Wanita Karier dan Ibu Rumah Tangga yang Super Sibuk
The post Tip Mengatur Cash Flow Keuangan dari Sosok Ibu appeared first on EduFulus - The Path To Financial Freedom.
]]>The post Pasar Saham Masih Lesu Terpapar Covid-19, Saatnya Lirik Commodity Boom appeared first on EduFulus - The Path To Financial Freedom.
]]>Berbagai upaya pemulihan ekonomi berhasil menggeliatkan IHSG hingga ke level 6.000 pada saat ini, dengan peningkatan rata-rata volume transaksi dan rata-rata frekuensi transaksi harian yang signifikan. Pulihnya perekonomian global dan masifnya vaksinasi tak dipungkiri menjadi daya dorong pertumbuhan IHSG ini.
Menariknya, di balik bencana pandemi Covid-19 ada berkah tersendiri yang bisa dikecap. Blessing in disguise. Ada berkah tersembunyi di balik kondisi buruk yang sedang terjadi.
SIMAK JUGA: 10 Tips Memilih Sekuritas Masa Kini yang Terbaik
Salah satu berkah pandemi yang cukup nyata adalah kenaikan jumlah investor yang sangat signifikan. Di masa pandemi generasi milenial berbondong-bondong masuk ke pasar modal untuk mencari keberuntungan cuan.
Memang untuk saat ini IHSG masih di level 6.000. Tetapi kalau bicara target IHSG di level 7.000 maka masih terbuka peluang besar bagi siapa pun untuk ambil bagian dalam usaha mendulang cuan di tengah pandemi.
IHSG memang lesu dibanding sebelum pandemi, namun bukan berarti harus patah arang. It’s OK to slowdown, sejenak menimang-menimang saham-saham yang terbaik dengan pisau analisis yang dimiliki. Karena bagaimana pun, di saat IHSG lesu yang dibarengi dengan turunnya harga-harga saham, justru inilah peluang emas untuk melakukan akumulasi saham-saham blue chip yang sedang murah-murahnya.
Di saat harga-harga saham turun, tentu saja peluang cuan itu kian terbuka seiring dengan target IHSG di level 7.000 yang masih sebatas harapan di tengah kasus pandemi Covid-19 yang tak kunjung berakhir. Ini artinya kelesuhan IHSG tak perlu dirisaukan secara berlebihan. Toh, optimisme pertumbahan ekonomi itu sudah di depan mata.
Berbagai upaya pemulihan ekonomi beberapa negara besar di dunia seperti RRT, Amerika Serikat hingga Eropa pelan namun pasti berdampak pada harga komoditas yang akan mengalami peningkatan signifikan, sehingga bukan tidak mungkin muncul boom komoditas (commodity boom).
SIMAK JUGA: Begini Lho Aturan Main Investasi Saham di BEI, Investor Pemula (Newbie) Wajib Tahu
Commodity boom adalah kondisi ketika harga-harga komoditas meningkat dengan cepat karena permintaan yang naik tajam. Biasanya periode commodity boom ini ditandai dengan kondisi makro ekonomi yang memperlihatkan penguatan fundamental. Ekonomi pun menggeliat.
Ekonomi tumbuh atau naik, otomatis daya beli ikut meningkat. Ketika komoditas naik, semisal batubara, tentu penambang batu bara lagi banyak duit, sehingga bisa beli motor, mobil hingga barang mewah. Ini sama artinya harga komoditas naik maka sektor lain juga akan terdampak sehingga geliat ekonomi itu juga nyata.
Indonesia sebagai negara eksportir komoditas yang besar, tentu saja bukan hanya kinerja ekspor Indonesia yang akan terpengaruh. Pertumbuhan ekonomi akan bergerak naik, saat harga komoditas seperti batubara dan timah sedang naik. Saat harga komoditas naik (commodity boom), tentu terbuka peluang pertumbuhan ekonomi yang bakal melaju kencang.
Di sisi lain, ketika harga-harga naik maka secara langsung memberikan dampak pada emiten yang memproduksi komoditas. Laporan keuangan emiten pun akan melonjak. Biasanya, ketika laporan keuangan membaik, pasti emiten itu akan diburu investor. Singkat kata, saat harga-harga komoditas naik, tentu saja emitennya juga diincar. Nah, ketika banyak diburu inilah harga saham terkerek naik yang ujung-ujungnya berimbas pada IHSG yang akan ikut naik.
Justru saat target IHSG sudah dipancang di level 7.000 maka mengakumulasi saham-saham yang sedang diskon karena terpapar Covid-19 menjadi sebuah keniscayaan. Tunggu apalagi.
SIMAK JUGA: Apa Itu Window Dressing?
* Kuy cerdas investasi dan trading dengan artikel edukatif EduFulus.com lainnya di Google News. Dus, jika tertarik menjalin kerjasama dengan EduFulus.com, silakan hubungi tim di WA (0812 8027 7190) atau email: [email protected].
The post Pasar Saham Masih Lesu Terpapar Covid-19, Saatnya Lirik Commodity Boom appeared first on EduFulus - The Path To Financial Freedom.
]]>The post Strategi Lump Sum Versus Dollar Cost Averaging (DCA) dalam Investasi appeared first on EduFulus - The Path To Financial Freedom.
]]>Secara prinsip kedua strategi ini bisa digunakan dalam investasi reksa dana atau pun saham. Kendati demikian, pilihan pada strategi ini wajib menyesuaikan dengan profil keuangan masing-masing investor.
Lump Sum dalam investasi adalah strategi menyetorkan uang dalam jumlah banyak sekaligus ke dalam instrumen investasi. Strategi ini cocok untuk investor dengan penghasilan tetap, berkocek tebal, dan sudah memiliki pengalaman.
SIMAK JUGA:Apa Itu Trading Halt? Corona (Covid-19) Bikin Rontok IHSG dan Harga Saham di 2020
Pengalaman yang dimaksud adalah pengalaman soal timing yang tepat untuk investasi, yakni tatkala pasar benar-benar sedang mengalami koreksi besar-besaran dan pada saat yang sama sebenarnya terjadi pemulihan kondisi ekonomi.
Selain butuh modal besar, menjadi investor yang selalu memiliki kemampuan memprediksikan titik terendah dari pasar itu bukan perkara mudah, karena tidak ada rumus pasti cuan dalam investasi reksa dana dan saham.
Ada pun kelebihan strategi ini adalah keuntungan yang maksimal, terutama saat kinerja pasar untuk jangka pendek atau menengah terbilang positif. Oleh sebab itu, strategi Lump Sum ini cocok untuk investor yang simpel dan tidak ingin repot berinvestasi secara bertahap.
Sementara itu, strategi Dollar Cost Averaging (DCA) dalam investasi atau dikenal dengan investasi berkala sebenarnya lebih cocok untuk investor dengan dana terbatas atau bahkan untuk mereka yang belum memiliki pendapatan tetap. Investasi dengan strategi nyicil ini baik dilakukan untuk keseimbangan keuangan.
SIMAK JUGA: Waran: Produk Pemanis di Pasar Modal
Strategi ini efektif memberikan hasil investasi yang baik dengan syarat dilakukan dengan timing yang tepat, yaitu saat harga-harga reksa dana atau saham sedang turun pada posisi terendah sehingga memungkinkan investor membeli pada harga yang lebih murah.
Kelebihan strategi DCA ini praktis karena investor tidak perlu melakukan analisis pasar dan dapat melakukannya secara autodebet atau terpotong otomatis dari rekening dalam jumlah yang sama setiap bulannya. Dengan strategi ini tentu saja modal yang diperlukan lebih terjangkau atau merakyat ketimbang strategi Lump Sum.
Strategi Lump Sum ini cocok untuk investor yang ingin aman dan fokus menjaga nilai investasi tanpa berbagai usaha besar, dengan membeli reksa dana atau saham yang tepat secara rutin dan berkala. Kebiasaan membeli secara tetap ini tentu efektif untuk menghindari keputusan yang impulsif.
Akhir kata, pada dasarnya baik strategi Lump Sum maupun Dollar Cost Averaging (DCA) cocok diterapkan dalam investasi reksa dana atau saham. Namun memadukan kedua strategi ini sekaligus, tentu tidak menjadi masalah. Langkah konkretnya pada saat pasar sedang koreksi besar-besaran, investor dapat menambah porsi investasinya. Sebaliknya, jika pasar dalam keadaan normal, cukup melakukan investasi berkala.
SIMAK JUGA: Kamu Newbie dalam Investasi Saham, Kuy Simak 5 Tip untuk Pemula Ini
* Kuy cerdas investasi dan trading dengan artikel edukatif EduFulus.com lainnya di Google News. Dus, jika tertarik menjalin kerjasama dengan EduFulus.com, silakan hubungi tim di WA (0812 8027 7190) atau email: [email protected].
The post Strategi Lump Sum Versus Dollar Cost Averaging (DCA) dalam Investasi appeared first on EduFulus - The Path To Financial Freedom.
]]>The post Begini Indeks Literasi dan Inklusi Keuangan di Indonesia Terkini appeared first on EduFulus - The Path To Financial Freedom.
]]>Segendang-sepenarian, Central Connecticut State University dalam risetnya menemukan tingkat minat membaca orang Indonesia di posisi kedua terbawah alias di urutan 60 dari 61 negara yang diteliti.
Nah, sebagai konsekuensi logis dari rendahnya budaya membaca plus kurangnya buku-buku bacaan bermutu di bidang keuangan, tingkat literasi keuangan masyarakat Indonesia pun terdampak.
SIMAK JUGA:Investasi untuk Para Youtuber hingga Selebgram Idaman
Kecakapan masyarakat dalam hal keuangan tercatat rendah. Padahal menurut Otoritas Jasa Keuangan (OJK), literasi keuangan akan sangat membantu dalam memberikan pemahaman yang mendalam tentang aturan main untuk mengelola keuangan yang cerdas dan peluang mencapai kebebasan keuangan pun akan semakin besar.
Studi OJK mendapati tingkat literasi keuangan penduduk Indonesia yang well literate memang masih rendah di angka 29,7% pada 2016 lalu. Well literate dalam keuangan sendiri dimengerti sebagai kondisi masyarakat yang memiliki pengetahuan dan keyakinan tentang lembaga jasa keuangan serta produk jasa keuangan, termasuk fitur, manfaat dan risiko, hak dan kewajiban terkait produk dan jasa keuangan, serta keterampilan dalam menggunakan produk dan jasa keuangan. Definisi well literate terbedakan dari sufficient literate yang masih di angka 75,69%, less literate di angka 2,06% dan not literate di angka 0,41%.
OJK pernah menargetkan indeks literasi keuangan nasional pada 2019 bertengger di angka 35%. Tak hanya indeks literasi, indeks inklusi keuangan juga ditargetkan 75% pada 2019 naik dari 67,8% pada 2016 lalu.
SIMAK JUGA: Belajar Mengelola Gaji di 5 Pos Utama Ala Superman Asia Li Ka-Shing
Berdasarkan survei nasional literasi keuangan 2019, tingkat inklusi dan literasi keuangan Indonesia meningkat. Data menunjukkan bahwa indeks literasi keuangan itu mencapai 38,03 persen dan indeks inklusi keuangan mencapai 76,19 persen.
Target inklusi keuangan pada 2024 dipatok mencapai 90 persen. Target tinggi ini tentu cukup realistis mengingat dewasa ini edukasi literasi keuangan juga masif dilakukan tak hanya oleh OJK, tetapi juga oleh Kementerian Keuangan, BEI, perbankan dan perusahaan sekuritas.
Di luar masifnya edukasi literasi keuangan, kehadiran platform-platform modern yang memudahkan masyarakat mengakses layanan keuangan memberikan dampak konkret untuk literasi dan inklusi keuangan.
Masyarakat gampang mengakses layanan keuangan, seperti halnya untuk layanan nabung reksa dana online. Platform nabung reksa dana online atau aplikasi memungkinkan masyarakat mendapatkan return yang lebih tinggi dibanding hanya menyimpan uangnya di tabungan atau deposito yang berbunga rendah di bawah inflasi.
SIMAK JUGA: Seluk Beluk Prinsip Islam di Pasar Modal Syariah
* Kuy cerdas investasi dan trading dengan artikel edukatif EduFulus.com lainnya di Google News. Dus, jika tertarik menjalin kerjasama dengan EduFulus.com, silakan hubungi tim di WA (0812 8027 7190) atau email: [email protected].
The post Begini Indeks Literasi dan Inklusi Keuangan di Indonesia Terkini appeared first on EduFulus - The Path To Financial Freedom.
]]>