The post Polemik Biaya (Fee) Rendah dalam Transaksi Jual-Beli Saham appeared first on EduFulus - The Path To Financial Freedom.
]]>Memahami komponen biaya dalam setiap transaksi saham menjadi sangat penting bagi investor, terutama bagi mereka yang baru memulai. Tidak ingin karena kurang pengetahuan, investor menjadi terkejut dan tak menerima biaya yang muncul setelah transaksi saham dilakukan.
Pada umumnya, total biaya yang harus ditanggung oleh investor dalam setiap transaksi saham berkisar antara 0,15-0,35% dari nilai transaksi, termasuk pajak pertambahan nilai (PPN) dan pajak penghasilan (PPh) sebesar 0,1% untuk transaksi penjualan saham.
SIMAK JUGA: 4 Jenis Fee (Biaya) dalam Investasi Saham yang Harus Ditanggung Investor
Berikut adalah rincian komponen biaya yang perlu ditanggung oleh investor dalam setiap transaksi saham:
1). Komisi Broker (Broker Fee)
Komisi atau fee yang dikenakan oleh perusahaan sekuritas bervariasi, tetapi umumnya berkisar antara 0,15-0,35% dari nilai transaksi saham (sudah termasuk pajak). Sebagai contoh, di PT Indo Premier Sekuritas (IndoPremier), total fee untuk pembelian saham adalah 0,19% dan 0,29% untuk penjualan saham (sudah termasuk pajak).
Misalnya, jika Anda membeli 1 lot saham BBRI dengan harga Rp4.460 per lembar, perhitungannya adalah sebagai berikut: 1 lot (100 lembar) saham x Rp4.460 = Rp446.000 ditambah fee pembelian 0,19% x Rp446.000 = Rp847,4. Jadi, total biaya yang harus dikeluarkan untuk membeli 1 lot saham BBRI adalah Rp446.000 + Rp847,4 = Rp446.847,4.
Jika harga saham BBRI naik, misalnya menjadi Rp4.600 per lembar dan Anda ingin menjualnya, perhitungan biaya penjualan adalah sebagai berikut: 1 lot x Rp4.600 = Rp460.000 dikurangi fee penjualan 0,29% x Rp460.000 = Rp1.334. Jadi, uang yang Anda terima setelah penjualan adalah Rp460.000 – Rp1.334 = Rp458.666.
2). Biaya Transaksi (Levy)
Biaya transaksi jual-beli saham (Levy) sebesar 0,04% dari nilai transaksi, yang terdiri dari BEI (0,01%), KSEI (0,01%), biaya kliring KPEI (0,01%), dan dana jaminan KPEI (0,01%).
3). Pajak Pertambahan Nilai (PPN)
Tarif PPN yang dikenakan adalah sebesar 10%. Dalam transaksi jual-beli saham, tarif PPN yang digunakan adalah 0,03% dari jumlah transaksi.
4). Pajak Penghasilan (PPh)
Pajak ini hanya dikenakan pada transaksi penjualan saham. PPh yang dikenakan adalah PPh Pasal 4 Ayat 2 yang bersifat final, sebesar 0,1% dari nilai bruto (kotor) transaksi.
Hal yang penting untuk diingat oleh investor saham adalah tidak mudah terpikat oleh fee yang rendah. Penting untuk berhati-hati dan tidak terjebak oleh daya tarik fee yang rendah.
Investor perlu memperhatikan bahwa memilih perusahaan sekuritas dengan biaya yang transparan, meskipun mungkin tidak termasuk yang paling rendah, tetapi dilengkapi dengan fasilitas-fasilitas komprehensif yang akan membantu dalam mendapatkan keuntungan dari investasi saham.
SIMAK JUGA: nilah Saham-saham di Indeks LQ45 Periode Agustus 2023 Hingga Januari 2024, Apa Itu Indeks LQ45?
The post Polemik Biaya (Fee) Rendah dalam Transaksi Jual-Beli Saham appeared first on EduFulus - The Path To Financial Freedom.
]]>The post Saham Murah Vs Saham Murahan, Waspadai Value Trap appeared first on EduFulus - The Path To Financial Freedom.
]]>Makanya saran yang banyak diberikan adalah membeli saham yang valuasinya sedang murah. Namun tak hanya berhenti di valuasinya yang murah, investor atau trader saham wajib mengecek dan menganalisis laporan keuangan emitennya secara komprehensif.
Perlu dicatat baik-baik bahwa saham yang valuasinya murah berdasarkan analisis Price to Earnings Ratio (PER) atau Price to Book Value (PBV) belum tentu murah dalam arti yang sesungguhnya baik untuk ditransaksikan atau undervalued, tetapi bisa jadi malah saham murahan.
SIMAK JUGA: 4 Tips Cerdas Meminimalkan Risiko dalam Investasi Saham
Dihadapkan pada saham dengan kondisi begini, investor atau trader tentu wajib waspada dengan yang namanya value trap atau kondisi saham yang kayaknya murah, ternyata saham murahan.
Jika investor atau trader dalam melihat valuasi saham hanya berpatokan pada PER dan PBV maka bisa jadi sedang masuk dalam jebakan yang namanya value trab.
Oleh sebab itu, analisis valuasi saham murah tidak boleh hanya berpatokan pada acuan PER dan PBV.
Meskipun kedua metrik ini umum digunakan dalam analisis valuasi saham, ada beberapa faktor penting lainnya yang juga perlu dipertimbangkan agar analisis lebih komprehensif dan akurat.
Berikut adalah beberapa faktor tambahan yang perlu diperhatikan dalam analisis valuasi saham:
Selain melihat PER, penting untuk memperhatikan pertumbuhan laba dan pendapatan perusahaan dari waktu ke waktu. Saham dari perusahaan dengan pertumbuhan laba dan pendapatan yang solid mungkin lebih menarik daripada saham dari perusahaan dengan PER rendah namun laba dan pendapatan yang menurun.
Pendekatan ini memperkirakan nilai saham dengan mengalokasikan nilai sekarang dari aliran kas yang diharapkan di masa depan. DCF adalah salah satu metode valuasi yang lebih komprehensif, karena mempertimbangkan arus kas masa depan, tingkat diskonto, dan estimasi pertumbuhan perusahaan.
Memeriksa rasio utang perusahaan dan tingkat likuiditasnya sangat penting. Saham dari perusahaan dengan beban utang yang tinggi atau likuiditas rendah bisa menjadi sinyal risiko.
Evaluasi kinerja operasional perusahaan, margin keuntungan, return on equity (ROE), dan indikator fundamental lainnya juga perlu dilakukan. Informasi ini membantu memberikan gambaran lebih lengkap tentang kesehatan dan performa perusahaan.
Pertimbangkan juga prospek industri tempat perusahaan beroperasi. Faktor-faktor makroekonomi dan industri dapat berdampak pada performa perusahaan dan valuasi sahamnya.
Kualitas manajemen perusahaan dan kebijakan korporasi mereka dapat berdampak pada valuasi saham. Memahami reputasi dan rekam jejak manajemen adalah bagian penting dari analisis.
Ingatlah bahwa analisis valuasi saham adalah kombinasi dari berbagai faktor dan metode. Tidak ada satu metrik tunggal yang dapat memberikan gambaran lengkap tentang valuasi sebuah saham.
Dalam investasi saham, penting untuk melakukan analisis menyeluruh dan berhati-hati sebelum membuat keputusan investasi.
So, penting untuk tidak terjebak dengan saham-saham yang valuasinya seolah-olah terlihat murah, namun bukan karena kinerja operasionalnya yang meningkat.
Nah, analisis fundamental, apalagi di tengah kondisi market yang sedang volatile karena ancaman resesi global, penting dilakukan secara komprehensif.
SIMAK JUGA: 5 Cara Genjot Kelihaian Investasi Saham buat Milenial
The post Saham Murah Vs Saham Murahan, Waspadai Value Trap appeared first on EduFulus - The Path To Financial Freedom.
]]>The post Kenali Pendekatan Top Down dan Bottom Up dalam Pemilihan Saham appeared first on EduFulus - The Path To Financial Freedom.
]]>Guna memudahkan pemilihan, tak mengherankan dalam lingkup investasi saham dikenal 2 pendekatan. Kedua pendekatan ini patut diketahui para investor di tengah kemudahan investasi saham yang sudah serba online berbasis aplikasi dan terjangkau saat ini.
Kedua pendekatan yang wajib dipahami tersebut adalah pendekatan top down dan bottom up.
Harus diakui, baik pendekatan top down maupun bottom up ini sebenarnya memiliki tujuan yang sama, yakni menemukan saham-saham unggulan yang layak untuk dimasukkan ke dalam keranjang investasi.
SIMAK JUGA: Inilah 20 Saham Terburuk (Top Losers) Sepanjang 2022
Baik top down maupun bottom up bertujuan untuk menemukan keselarasan antara makro ekonomi dan mikro ekonomi. Hal ini dilakukan untuk memperkecil risiko investasi atau trading.
Dari asal katanya top down maka dapat dengan mudah diartikan dari atas ke bawah. Artinya, pendekatan ini berupa analisis dari makro ke mikro.
Dengan pendekatan ini situasi ekonomi global dan domestik lebih dulu dinilai sebelum menentukan sektor apa yang bakalan memiliki prospek lebih cerah ketimbang sektor lainnya.
Dengan kata lain maka kerangka berpikirnya berangkat dari makro ekonomi secara keseluruhan baru kemudian mengerucut ke analisis sektor atau industri, sebelum akhirnya bermuara pada analisis emiten atau saham.
Makro ekonomi ini menelisik kondisi negara-negara maju (developed countries) maupun negara-negara berkembang (emerging countries), salah satunya dengan melihat pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) selama beberapa tahun terakhir dan memperkirakan angka pertumbuhan di masa depan.
SIMAK JUGA: 3 Tip Bijak dan Tepat Saat Saham Sedang Downtrend
Bukan rahasia lagi, negara-negara berkembang justru memiliki angka pertumbuhan PDB yang jauh lebih baik daripada negara-negara maju.
Selain indikator makro tersebut, perlu pula analisis geopolitik yang biasanya juga bisa mengubah tatanan perekonomian negara-negara tertentu.
Nah, setelah menganalisis kondisi global dan telah mengerucut ke negara tertentu, langka yang biasanya diambil adalah melihat grafik pergerakan jangka panjang dari indeks harga sahamnya.
Hal ini diperlukan supaya bisa menentukan apakah pasar saham di negara tersebut sedang mengalami tren kenaikan dan layak dianalisis lebih lanjut atau mungkin malah sedang dalam tren penurunan sehingga tidak layak untuk dijadikan tujuan investasi.
Jika suatu negara layak menjadi tujuan investasi maka langkah selanjutnya adalah melakukan analisis lebih mendalam atas perekonomian negara tersebut serta kesehatan pasar sahamnya tanpa lupa untuk menelisik tingkat suku bunga, inflasi hingga tingkat pengangguran.
Setelah itu baru analisis pergerakan indeks harga saham, baik secara fundamental maupun teknikal.
Sebaliknya, pendekatan bottom up atau dari bawah ke atas tentu saja arti sebaliknya dari top down yang artinya pendekatan berupa analisis mikro ke makro.
Pendekatan ini mengedepankan kondisi fundamental dan teknikal suatu emiten, setelah itu baru mempertimbangkan pengaruh kondisi makronya seperti inflasi, suku bunga, permintaan pasar, dan sebagainya yang biasanya memberi pengaruh pada kinerja emiten.
Pendekatan dengan analisis bottom up biasanya mengesampingkan analisis ekonomi dan kondisi pasar terlebih dahalu karena fokus pada analisis pada masing-masing sahamnya.
Analisisnya ini bertumpu pada asumsi bahwa emiten dapat berkinerja baik, meski industri di mana emiten itu tidak sedang bagus kinerjanya.
Nah, karena analisis langsung pada masing-masing emiten maka biasanya kajian mengarah pada produk dan layanan emiten, kondisi finansial dan berbagai aspek bisa berdampak langsung pada kinerja emiten.
Secara lebih terperinci, telaahnya pada daya saing emiten di pasar, utang, kas, dividen, pergerakan laba hingga harga sahamnya selama ini. Kajian ini semua untuk menilai apakah saham yang dinilai ini masuk kriteria kelayakan untuk dimasukkan ke keranjang investasi.
Praktik nyata dalam investasi saham, kedua pendekatan ini, baik top down maupun bottom up, biasanya tidak berjalan sendiri-sendiri, melainkan dipadukan untuk mendapatkan pilihan saham yang benar-benar terbaik untuk dimasukkan ke dalam keranjang investasi.
SIMAK JUGA: Inilah Kriteria Saham yang Masuk Papan Pemantauan Khusus, Cekidot!
The post Kenali Pendekatan Top Down dan Bottom Up dalam Pemilihan Saham appeared first on EduFulus - The Path To Financial Freedom.
]]>The post Inilah 20 Saham Terbaik (Top Gainer) Sepanjang 2022 appeared first on EduFulus - The Path To Financial Freedom.
]]>Peningkatan maupun penurunan harga itu tentu saja tidak terbatas, melainkan dibatasi oleh ketentuan auto reject atas (ARA) dan auto reject bawah (ARB) yang diatur oleh BEI.
Secara gampangnya, saham top gainers adalah saham-saham yang mengalami peningkatan harga paling tinggi dalam perdagangan sepanjang 2022, sementara itu saham top losers adalah saham-saham yang mengalami penurunan harga paling tinggi dalam perdagangan sepanjang 2022.
Sepanjang 2022 banyak saham yang memberikan cuan, namun tak sedikit saham yang justru membuat kantong bolong. Lantas apa saja saham top gainers dan top losers sepanjang 2022?
Berikut ini 20 saham top gainers sepanjang 2022

The post Inilah 20 Saham Terbaik (Top Gainer) Sepanjang 2022 appeared first on EduFulus - The Path To Financial Freedom.
]]>The post 4 Tip Biar Sukses Jadi Investor Saham, Nomor 1 Penting Banget appeared first on EduFulus - The Path To Financial Freedom.
]]>Sayangnya, jumlah orang Indonesia yang menggeluti investasi saham tergolong masih kecil. Boleh dikata, masyarakat gamang untuk memulai investasi saham.
Mayoritas masyarakat Indonesia tak siap dengan risiko rugi. Padahal, dalam investasi, terutama bagi pemula, siap rugi menjadi salah satu sikap mental yang harus dimiliki.
SIMAK JUGA: Pemula Wajib Tahu 8 Tip Memilih Reksa Dana Ini Biar Kagak Boncos
Nah, biar menjadi investor saham yang sukses, berikut ini 4 tip yang perlu diperhatikan bagi masyarakat yang ingin terjun ke investasi saham:
Tak ada investasi yang 100% aman alias selalu untung. So, memiliki mental siap untung dan siap rugi menjadi modal utama untuk investor pemula. Jangan sampai investor saham itu tidak memiliki mental siap rugi.
Perlu dicamkan, seperti halnya dalam bisnis, investasi juga memiliki 2 kemungkinan ekstrem yaitu untung atau rugi. Memiliki mental siap rugi dan siap untung sangat penting karena kebanyakan dari kita itu banyak yang siap untuk untung, tetapi tidak siap untuk rugi.
Ada dua risiko utama dalam investasi saham yaitu capital loss atau selisih negatif nilai jual saham dengan nilai beli dan likuidasi atau kebangkrutan emiten. Kita memang memiliki hak atas aset perusahaan sesuai porsi kepemilikan saham, jika perusahaan bangkrut.
Investasi saham itu bukan ilmu spekulasi. Transaksi saham ada ilmu analisisnya sehingga lebih terarah, logis dan tepat bidikan. Tak perlu khawatir, ini semua bisa dipelajari.
Dengan analisis fundamental dan teknikal yang cermat, niscaya keuntungan akan berpihak pada kita. So, jangan berspekulasi, tetapi lakukan analisis secara komprehensif.
Tak elok menggunakan uang yang biasa disediakan atau dikeluarkan untuk belanja sehari-hari untuk investasi. Dalam konteks investasi saham, uang yang dibutuhkan untuk pemenuhan kebutuhan sehari-hari itu disebut uang panas.
Investasi saham dengan uang panas ini tentu akan merugikan karena akan mengacaukan pemenuhan kebutuhan hidup sehari-hari. Oleh sebab itu, layak dipertimbangkan dalam investasi saham yaitu menggunakan uang yang benar-benar bebas dan tidak akan dipakai untuk jangka waktu 6 bulan ke depan.
Investasi butuh kesabaran dan pengendalian diri dari sisi emosi. Pasalnya pasar saham yang fluktuatif biasanya juga mengguncang emosi investor saham.
Perlu dicamkan untuk para investor pemula yang biasanya ingin cepat-cepat mengeruk keuntungan sebanyak-banyaknya tanpa pertimbangan yang matang atau hanya mengikuti emosi sesaat.
So, jangan pernah serakah dengan mengorbankan sebagian atau bahkan seluruh kekayaan untuk memborong saham. Kesabaran dalam investasi saham itu kunci sukses para investor saham.
SIMAK JUGA: 4 Tip Kece Buat Investor Saham Pemula
The post 4 Tip Biar Sukses Jadi Investor Saham, Nomor 1 Penting Banget appeared first on EduFulus - The Path To Financial Freedom.
]]>The post Kenali Support dan Resistance Saham, Emangnya Buy, Sell dan Hold Itu Gampang? appeared first on EduFulus - The Path To Financial Freedom.
]]>Secara khusus di dalam analisis teknikal, investor atau trader menganalisis pergerakan harga saham melalui chart di masa lalu untuk menentukan pergerakan harga di masa yang akan datang.
Nah, saat berkutat dengan chart inilah, seorang investor atau trader pasti akan mengalami saat yang tidak mudah dalam membuat keputusan untuk buy, sell atau hold atas saham yang diincar atau dimiliki.
SIMAK JUGA: Inilah 10 Sekuritas Terbaik Berdasarkan Total Nilai (Value) Trading Terbanyak 2021
Oleh sebab itu, seorang investor atau trader yang cerdas wajib paham yang namanya support dan resistance. Dengan mengetahui titik support atau resistance yang tepat maka investor atau trader bisa membuat keputusan yang tepat.
Support adalah level harga dimana harga seakan-akan akan tertahan dan tidak akan jatuh lagi lebih dalam. Kondisi ini memicu dan menarik untuk melakukan aksi beli. Pemilihan support dilakukan dengan menarik garis horizontal pada titik harga saham terendah lalu harga kembali naik.
Resistance sendiri kebalikan dari support dimana level harga seakan-akan sudah mencapai titik tertinggi, cenderung tidak naik lebih tinggi lagi dan cenderung turun sehingga memicu aksi jual. Pembuatan resistance dilakukan dengan menarik garis horizontal pada titik harga saham tertinggi kemudian berbalik turun. Aksi jual ini biasanya untuk profit taking.
Lantas strategi investasi/trading apa yang harus dilakukan setelah tahu support dan resistance dengan baik di saat market sedang uptrend? Tentu saja investor atau trader bisa melakukan posisi buy (beli) dan melakukan aksi sell (jual) saat harga sudah menembus level support.
SIMAK JUGA: Inflasi “Pencuri” Uang Kita di Tabungan
Selanjutnya jika dihadapkan pada kondisi market yang sedang downtrend maka investor atau trader sebaiknya melakukan aksi jual (sell) dan bersiap untuk membeli lagi jika sudah ada support untuk berbalik naik lagi.
Sementara itu pada market yang sedang sideway maka sebaiknya investor atau trader memilih wait and see sembari menunggu kepastian arah pergerakan harga.
Namun perlu dicatat baik-baik kalau support dan resistance bukan satu-satunya tools mujarab yang otomatis pegangan investor atau trader untuk melakukan aksi jual-beli.
Dalam beberapa kasus bila tekanan beli atau jual tidak terlalu besar, meskipun titik support atau resistance dapat terlampaui, harga saham toh dalam rentang support-resistance semula. Oleh karena itu, investor atau trader wajib cermat dalam melakukan analisis teknikal.
SIMAK JUGA: Saham Kamu Kena Suspensi? Begini Cara Jualnya
The post Kenali Support dan Resistance Saham, Emangnya Buy, Sell dan Hold Itu Gampang? appeared first on EduFulus - The Path To Financial Freedom.
]]>The post Sudah Siap Alami Penyesalan Demi Penyesalan dengan Investasi Saham? appeared first on EduFulus - The Path To Financial Freedom.
]]>Oleh sebab itu, bagi siapa pun yang ingin terjun dan menekuni dunia saham memang harus siap mengalami banyak penyesalan. Penyesalan demi penyesalan itu akan datang silih berganti.
SIMAK JUGA: Apes Dah, Kemana dan Bagaimana Sih Ya Cara Mengurus Saham yang Kena Delisting?
Teori Behavioral Finance menyebut fenomena ini sebagai regret bias (bias penyesalan). Bias penyesalan dalam konteks investasi saham ada dua jenis. Keduanya pun lumrah dialami investor saham. Kedua penyesalan tersebut yakni: Pertama, error of commission. Kedua, error of omission.
Menariknya, kadar penyesalan dalam teori behavioral finance menyebutkan bahwa error of commission lebih kuat dibanding error of omission. Hal ini mudah dimengerti karena ada transaksi.
SIMAK JUGA: Inilah Sekuritas Terbaik dan Terpercaya Berdasarkan Total Frekuensi Trading Terbanyak
Bias penyesalan (regret bias) biasanya juga terjadi ketika ada IPO (initial public offering). Saat IPO hanya ada dua pilihan, yakni memesan atau tidak memesan dengan dua kemungkinan yakni IPO sukses atau gagal.
Penyesalan terjadi saat sudah melakukan aksi pemesanan, tetapi ternyata IPO gagal alias harga sahamnya justru anjlok. Beda halnya jika melakukan aksi memesan dan ternyata IPOnya sukses maka tak ada penyesalan.
So, penyesalan itu sangat lumrah dalam investasi saham. Tapi biar tidak mengalami banyak penyesalan, selain berbekal pengetahuan dan ketrampilan yang cukup, investor yang siap untuk menyesal sebaiknya memang tidak terlalu sering memelototi pergerakan harga saham.
Memelototi pergerakan harga saham secara terus-menerus dan tak terkendali justru membuka peluang terjadinya banyak transaksi gorengan yang berujung pada penyesalan. So, sudah siap untuk mengalami penyesalan demi penyesalan?
SIMAK JUGA: Inilah Daftar Lengkap Saham-Saham IDX80 Periode Agustus 2021-Januari 2022
The post Sudah Siap Alami Penyesalan Demi Penyesalan dengan Investasi Saham? appeared first on EduFulus - The Path To Financial Freedom.
]]>The post Pasar Saham Masih Lesu Terpapar Covid-19, Saatnya Lirik Commodity Boom appeared first on EduFulus - The Path To Financial Freedom.
]]>Berbagai upaya pemulihan ekonomi berhasil menggeliatkan IHSG hingga ke level 6.000 pada saat ini, dengan peningkatan rata-rata volume transaksi dan rata-rata frekuensi transaksi harian yang signifikan. Pulihnya perekonomian global dan masifnya vaksinasi tak dipungkiri menjadi daya dorong pertumbuhan IHSG ini.
Menariknya, di balik bencana pandemi Covid-19 ada berkah tersendiri yang bisa dikecap. Blessing in disguise. Ada berkah tersembunyi di balik kondisi buruk yang sedang terjadi.
SIMAK JUGA: 10 Tips Memilih Sekuritas Masa Kini yang Terbaik
Salah satu berkah pandemi yang cukup nyata adalah kenaikan jumlah investor yang sangat signifikan. Di masa pandemi generasi milenial berbondong-bondong masuk ke pasar modal untuk mencari keberuntungan cuan.
Memang untuk saat ini IHSG masih di level 6.000. Tetapi kalau bicara target IHSG di level 7.000 maka masih terbuka peluang besar bagi siapa pun untuk ambil bagian dalam usaha mendulang cuan di tengah pandemi.
IHSG memang lesu dibanding sebelum pandemi, namun bukan berarti harus patah arang. It’s OK to slowdown, sejenak menimang-menimang saham-saham yang terbaik dengan pisau analisis yang dimiliki. Karena bagaimana pun, di saat IHSG lesu yang dibarengi dengan turunnya harga-harga saham, justru inilah peluang emas untuk melakukan akumulasi saham-saham blue chip yang sedang murah-murahnya.
Di saat harga-harga saham turun, tentu saja peluang cuan itu kian terbuka seiring dengan target IHSG di level 7.000 yang masih sebatas harapan di tengah kasus pandemi Covid-19 yang tak kunjung berakhir. Ini artinya kelesuhan IHSG tak perlu dirisaukan secara berlebihan. Toh, optimisme pertumbahan ekonomi itu sudah di depan mata.
Berbagai upaya pemulihan ekonomi beberapa negara besar di dunia seperti RRT, Amerika Serikat hingga Eropa pelan namun pasti berdampak pada harga komoditas yang akan mengalami peningkatan signifikan, sehingga bukan tidak mungkin muncul boom komoditas (commodity boom).
SIMAK JUGA: Begini Lho Aturan Main Investasi Saham di BEI, Investor Pemula (Newbie) Wajib Tahu
Commodity boom adalah kondisi ketika harga-harga komoditas meningkat dengan cepat karena permintaan yang naik tajam. Biasanya periode commodity boom ini ditandai dengan kondisi makro ekonomi yang memperlihatkan penguatan fundamental. Ekonomi pun menggeliat.
Ekonomi tumbuh atau naik, otomatis daya beli ikut meningkat. Ketika komoditas naik, semisal batubara, tentu penambang batu bara lagi banyak duit, sehingga bisa beli motor, mobil hingga barang mewah. Ini sama artinya harga komoditas naik maka sektor lain juga akan terdampak sehingga geliat ekonomi itu juga nyata.
Indonesia sebagai negara eksportir komoditas yang besar, tentu saja bukan hanya kinerja ekspor Indonesia yang akan terpengaruh. Pertumbuhan ekonomi akan bergerak naik, saat harga komoditas seperti batubara dan timah sedang naik. Saat harga komoditas naik (commodity boom), tentu terbuka peluang pertumbuhan ekonomi yang bakal melaju kencang.
Di sisi lain, ketika harga-harga naik maka secara langsung memberikan dampak pada emiten yang memproduksi komoditas. Laporan keuangan emiten pun akan melonjak. Biasanya, ketika laporan keuangan membaik, pasti emiten itu akan diburu investor. Singkat kata, saat harga-harga komoditas naik, tentu saja emitennya juga diincar. Nah, ketika banyak diburu inilah harga saham terkerek naik yang ujung-ujungnya berimbas pada IHSG yang akan ikut naik.
Justru saat target IHSG sudah dipancang di level 7.000 maka mengakumulasi saham-saham yang sedang diskon karena terpapar Covid-19 menjadi sebuah keniscayaan. Tunggu apalagi.
SIMAK JUGA: Apa Itu Window Dressing?
* Kuy cerdas investasi dan trading dengan artikel edukatif EduFulus.com lainnya di Google News. Dus, jika tertarik menjalin kerjasama dengan EduFulus.com, silakan hubungi tim di WA (0812 8027 7190) atau email: [email protected].
The post Pasar Saham Masih Lesu Terpapar Covid-19, Saatnya Lirik Commodity Boom appeared first on EduFulus - The Path To Financial Freedom.
]]>The post Saham Kamu Kena Suspensi? Begini Cara Jualnya appeared first on EduFulus - The Path To Financial Freedom.
]]>Disuspensi berarti saham tersebut tidak bisa diperjual-belikan di bursa. Suspensi adalah sanksi dari BEI terhadap emiten yang telah melakukan pelanggaran tertentu.
Kebanyakan penyebab saham kena suspensi yakni ditemukannya pergerakan harga saham yang bergerak di luar kewajaran (Unusual Market Activy-UMA). Selain itu, bisa karena kesalahan dalam pencatatan laporan keuangan, adanya perbedaan antara pengumuman atas corporate action dengan kejadian yang sebenarnya, gagal membayar utang atau obligasi, insider trading (menggoreng saham) dan penyalahgunaan dana hasil IPO atau right issue.
Berdasarkan peraturan BEI, suspensi merupakan salah astu sanksi yang cukup berat, yaitu di tingkat 4. Hanya satu tingkat sebelum sanksi terberat, yaitu emiten tersebut dikeluarkan dari bursa (delisting). Urutan sanksi itu mulai dari denda maksimal Rp 500 juta, teguran tertulis, peringatan tertulis, larangan sementara untuk melakukan aktifitas perdagangan di Bursa (suspensi) dan pencabutan keanggotaan bursa.
Jangka waktu suspensi pun bergantung pada jenis pelanggarannya. Kalau ringan bisa hanya beberapa hari sudah dicabut sehingga bisa kembali bertransaksi, namun kalau berat bisa berbulan-bulan hingga bertahun-tahun.
Dampak suspensi seperti ini jelas nyata dimana investor tidak bisa melakukan jual-beli saham. Investor hanya bisa menunggu suspensi dibuka kembali untuk bertransaksi.
Lebih tragis lagi kalau jenis pelanggarannya besar sehingga suspensi hingga 2 tahun maka emiten akan didepak (dikeluarkan) dari bursa (delisting). Nah, buat yang masih bingung dengan cara jual saham yang kena suspensi, sebenarnya investor bisa memanfaatkan yang namanya pasar nego. Ingat di transaksi saham ada 3 pasar: reguler, tunai dan negosiasi (nego).
Selama belum delisting maka peluang pasar nego ini masih terbuka, tapi dengan konsekuensi jual lebih rugi lagi. Namun jika sudah ditawarkan di pasar nego bukan berarti pasti laku karena harus menunggu investor lain yang tertarik membeli.
Jika ingin menjual saham yang kena suspensi di pasar nego maka langkah-langkahnya:
Soal harga, biasanya lebih rendah dari harga pasar reguler karena membeli saham yang kena suspen sangat berisiko. Apalagi, jika masalah di emitennya tergolong berat. Ada beberapa kasus suspensi saham yang tidak dicabut hingga emitennya delisting.
Nah, jika emiten benar-benar sudah bangkrut maka sahamnya akan hilang dan investor juga tidak menerima apa-apa sama sekali. Rugi berat. Tragisnya, banyak saham yang kena suspensi akhirnya pailit dan akhirnya delisting paksa. Kalau sudah seperti ini maka investor lah yang benar-benar rugi karena seluruh investasi saham tersebut hilang.
So, buat investor yang punya saham yang kena suspensi, jika sudah ada keputusan untuk cutloss maka menawarkannya di pasar nego bisa menjadi pilihan biar tidak menderita kerugian total.
Memang sih setelah delisting paksa (force delisting) ada peluang dana bisa kembali, tetapi pada prosesnya tidaklah mudah dan panjang karena melalui penetapan pengadilan segala.
* Kuy cerdas investasi dan trading dengan artikel edukatif EduFulus.com lainnya di Google News. Dus, jika tertarik menjalin kerjasama dengan EduFulus.com, silakan hubungi tim di WA (0812 8027 7190) atau email: [email protected].
The post Saham Kamu Kena Suspensi? Begini Cara Jualnya appeared first on EduFulus - The Path To Financial Freedom.
]]>The post Inilah Daftar Lengkap Saham-Saham IDX80 Periode Agustus 2021-Januari 2022 appeared first on EduFulus - The Path To Financial Freedom.
]]>Khusus untuk saham-saham IDX80, BEI resmi menendang 8 saham yang selama ini bercokol di IDX30, yakni PT Adhi Karya Tbk (ADHI), PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT), PT Alam Sutera Realty Tbk (ASRI), PT Adi Sarana Armada Tbk (ASSA), PT BFI Finance Indonesia Tbk (BFIN), PT Barito Pacific Tbk (BRPT), PT Harum Energy Tbk (HRUM) dan PT Indosat Tbk (ISAT).
Selanjutnya, BEI resmi memasukkan 8 saham anggota baru IDX80, yakni PT Bank Danamon Indonesia Tbk (BDMN), PT Buana Lintas Lautan Tbk (BULL), PT Panin Financial Tbk (PNLF), PT PP Presisi Tbk (PPRE), PT J Resources Asia Pasifik Tbk (PSAB), PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk (SSMS), PT Wijaya Karya Bangunan Gedung Tbk (WEGE) dan PT Waskita Beton Precast Tbk (WSBP)
SIMAK JUGA: 5 Kebiasaan Buruk Milenial yang Mengancam Masa Depan Keuangan Mereka
Pada dasarnya terdapat dua kriteria yang mempengaruhi masuk-keluarnya saham dari indeks, yaitu aspek likuiditas (nilai dan frekuensi transaksi, jumlah hari transaksi di pasar reguler, dan kapitalisasi pasar free float) dan aspek fundamental (kinerja keuangan hingga kepatuhan).
IDX80 adalah indeks yang mengukur kinerja harga dari 30 saham yang memiliki likuiditas tinggi dan kapitalisasi pasar besar serta didukung oleh fundamental perusahaan yang baik.
IDX80 biasanya digunakan sebagai acuan oleh banyak investor institusi untuk memilih saham-saham terbaik. Oleh karena itu, perubahan susunan IDX30 ini berpotensi menyebabkan perubahan volume transaksi dan mempengaruhi harga saham.
SIMAK JUGA: 4 Keuntungan Investasi Sejak Usia Dini Mulai Saat Ini Juga
BEI lantas menegaskan perubahan saham-saham IDX80 ini berlaku per 2 Agustus 2021 hingga Januari 2022. Apa saja saham-saham yang kini menghuni IDX80?
Berikut ini daftar lengkap saham-saham IDX80 periode Agustus 2021-Januari 2022:
AALI BJBR HMSP LPKR SMBR
ACES BJTM HOKI LPPF SMGR
ADHI BMRI HRUM LSIP SMRA
ADRO BMTR ICBP MAPI SSIA
AKRA BRIS INCO MDKA TBIG
AMRT BRPT INDF MEDC TINS
ANTM BSDE INKP MIKA TKIM
ASII BTPS INTP MNCN TLKM
ASRI CPIN IPTV MYOR TOWR
ASSA CTRA ISAT PGAS TPIA
BBCA DMAS ITMG PTBA UNTR
BBNI DOID JPFA PTPP UNVR
BBRI ELSA JSMR PWON WIIM
BBTN ERAA KAEF RALS WIKA
BEST EXCL KLBF SCMA WOOD
BFIN GGRM LINK SIDO WSKT
SIMAK JUGA: Dirombak! Inilah Daftar Lengkap Saham-Saham LQ45 Periode Agustus 2021-Januari 2022
* Kuy cerdas investasi dan trading dengan artikel edukatif EduFulus.com lainnya di Google News. Dus, jika tertarik menjalin kerjasama dengan EduFulus.com, silakan hubungi tim di WA (0812 8027 7190) atau email: [email protected].
The post Inilah Daftar Lengkap Saham-Saham IDX80 Periode Agustus 2021-Januari 2022 appeared first on EduFulus - The Path To Financial Freedom.
]]>