The post Paradox Gen Z: YOLO, FOMO, FOPO, Doom Spending Hingga Instant Gratification appeared first on EduFulus - The Path To Financial Freedom.
]]>“Literasi keuangan yang baik dan inklusi keuangan yang bijak akan menjadikan generasi muda yang cerdas mengelola keuangan, terhindar dari kejahatan keuangan dan dapat menjadi agen literasi di tengah-tengah masyarakat,” kata Friderica di acara pembukaan Bulan Inklusi Keuangan (BIK) 2024 di Balikpapan, Kalimantan Timur, Sabtu, 5 Oktober 2024.
Menurutnya, literasi keuangan bagi Gen Z menjadi hal yang sangat penting mengingat jumlah generasi zoomers (Gen Z) yang mendominasi populasi Indonesia yaitu 27,94 persen dari total penduduk.
SIMAK JUGA: Panduan Investasi untuk Gen Z dan Milenial dalam 5 Langkah Mudah
Friderica mengatakan Gen Z juga dihadapkan dengan berbagai fenomena sosial seperti you only live once (YOLO), fear of missing out (FOMO) dan fear of other people opinion (FOPO) yang cenderung mengarahkan generasi muda ke pola hidup konsumtif dan bisa berdampak pada pengelolaan keuangan yang tidak bijaksana.
Selain hal di atas, ada fenomena doom spending yang terjadi di kalangan Generasi Milenial dan Gen Z. Doom spending berarti seseorang yang berbelanja cenderung impulsif tanpa mempertimbangkan penting atau tidaknya suatu barang.
Fenomena serupa yang marak adalah instant gratification yang merupakan perilaku untuk mendapatkan keinginan tanpa mencoba melakukan penundaan. Perilaku tersebut perlu diimbangi dengan perilaku delayed gratification yaitu menunda pemenuhan kesenangan saat ini untuk masa depan yang lebih baik.
“Generasi muda diimbau untuk lebih bijak untuk menggunakan produk dan layanan jasa keuangan. Kemampuan membedakan antara need and want juga harus dimiliki agar terhindar dari pola hidup konsumtif,” tandas Friderica.
SIMAK JUGA: 7 Cara Investasi Saham dengan Modal Kecil, Simak Rahasianya di Sini!
* Kuy cerdas investasi dan trading dengan artikel edukatif EduFulus.com lainnya di Google News. Dus, jika ada yang tertarik menjalin kerjasama dengan EduFulus.com, silakan hubungi tim di WA (0812 8027 7190) atau email: [email protected].
The post Paradox Gen Z: YOLO, FOMO, FOPO, Doom Spending Hingga Instant Gratification appeared first on EduFulus - The Path To Financial Freedom.
]]>The post Dear Milenial, Kurangi Kopimu, Nikmati Investasi appeared first on EduFulus - The Path To Financial Freedom.
]]>Survei dengan judul “Money Matters” menemukan bahwa hampir setengah generasi milenial menghabiskan uangnya untuk membeli kopi, bukannya investasi. Ini tentu bukan kabar baik bagi generasi yang mengaku mandiri tersebut.
Menunda investasi dan lebih memilih mengonsumsi kopi jelas mengancam kemapanan finansial di masa depan. Padahal investasi itu kini makin mudah karena sudah seharga secangkir kopi dan kehadiran bisa dinikmati dengan gadget dan smartphone di genggaman tangan. Semua tinggal pencet dalam hitungan detik.
SIMAK JUGA: 4 Tip Tingkatkan Kepercayaan Diri dalam Investasi Saham bagi Perempuan
So, karena menunda investasi hanya akan merugikan diri sendiri, ada baiknya kini kamu tidak boros dan mulai investasi, bukannya ngopi melulu. Berikut ini tip buat kamu yang ingin berinvestasi:
Hidup tanpa tujuan itu hambar, apalagi kalau hanya sekadar ngopi-ngopi melulu. Karena tujuan investasi itu tidak untuk menghambur-hamburkan uang maka menentukan target dan tujuan investasi menjadi penting. Mimpi kita di masa depan hanya bisa digapai dengan planning investasi yang cermat dan matang.
Tabungan konvensional itu kini kurang menarik dari sisi bunga dan biaya administrasinya. Sementara bunga tabungan sudah kecil, nilai uang kamu di tabungan juga akan tergerus oleh inflasi. Kalau sudah seperti ini carilah alternatif lain yang bisa memberikan imbal hasil tinggi di atas inflasi.
SIMAK JUGA:Investasi Saham untuk Orang yang Ngaku Paling Super Sibuk, Why Not, Gampang Tuh Ngakalinnya!
Banyak dari kita berpikir kalau investasi itu butuh modal gede. Nyatanya, investasi seperti reksa dana dan saham itu kini makin mudah dengan setoran awal kecil sebesar 100.000 rupiah saja. Karena tergolong kecil, kunci sukses investasi adalah disiplin menyisihkan uang dan kurangi waktu ngopi.
Beragam investasi kini banyak bermunculan. Perkembangan teknologi makin memudahkan kita mendapatkan banyak informasi tentang investasi. Informasi tentang investasi gampang kita gali dan dapatkan melalui smartphone kita. Kuncinya, temukan investasi yang kredibel dan bukan karena ikut-ikutan influencer atau publik figur.
Pilihlah satu atau beberapa investasi yang cocok buatmu mulai dari deposito, logam mulia (emas), properti, bisnis, barang koleksi, reksa dana, obligasi dan saham. Pilihkan jenis investasi yang paling cocok dengan kondisi keuanganmu. Apabila berani mengambil risiko tinggi, kamu bisa mencoba reksad ana ataupun saham. Sementara itu, kalau kamu ingin yang aman-aman saja maka investasi emas boleh dikata cukup aman.
SIMAK JUGA:Kelemahan dan Kekurangan Aplikasi BIONS Milik PT BNI Sekuritas
* Kuy cerdas investasi dan trading dengan artikel edukatif EduFulus.com lainnya di Google News. Dus, jika tertarik menjalin kerjasama dengan EduFulus.com, silakan hubungi tim di WA (0812 8027 7190) atau email: [email protected].
The post Dear Milenial, Kurangi Kopimu, Nikmati Investasi appeared first on EduFulus - The Path To Financial Freedom.
]]>The post Wajib Disiplin Review Saham Berkala, Apa Saja yang Perlu Ditinjau? appeared first on EduFulus - The Path To Financial Freedom.
]]>Padahal, yang namanya review itu sangat penting. Investor bisa mengetahui apakah transaksi saham yang dilakukan selama ini sudah sesuai dengan harapan atau belum.
Disiplin dalam review meningkatkan kualitas investasi atau trading. Dengan begitu, profit yang didapatkannya pun berpotensi meningkat.
SIMAK JUGA:Terlalu Banyak Diversifikasi Saham Bikin Rempong, Lha Idealnya Berapa Sih?
Pakar saham Desmond Wira dalam bukunya “Memulai Investasi Saham” menuliskan kalau review bisa dilakukan secara berkala, entah tiap bulan, tiap 3 bulan, tiap 6 bulan atau tiap tahun. Ada 4 hal yang perlu menjadi perhatian dalam review berkala.
Trading (trader) dekat dengan kegiatan membeli saham untuk dijual kembali dalam waktu yang tidak terlalu lama. Paling lama saham yang telah dibeli dijual dalam hitungan bulan untuk mendapatkan keuntungan jangka pendek. Sementara itu, investasi (investor) erat kaitannya dengan kegiatan membeli saham untuk disimpan dan dijual kembali di masa depan. Jangka waktunya bisa berbulan-bulan hingga bertahun-tahun. Nah, setelah sekian lama berkecimpung dengan jual-beli saham, tentunya tahu kecenderungan secara pribadi lebih cocok untuk trading atau investasi. Pilihan entah trader atau investor tentunya perlu diselaraskan dengan bakat, minat dan hasil selama ini. Kuncinya, jika selama ini telah menjadi trader, tapi hasilnya tidak memuaskan maka dengan mencoba menjadi investor bisa jadi lebih menguntungkan. Begitu juga sebaliknya.
Dalam jangka waktu tertentu hasil investasi atau trading itu perlu direview. Review ini efektif untuk mengecek apakah hasil transaksi saham selama ini sudah memuaskan atau belum. Jika belum memuaskan, perlu dicari penyebabnya, apakah analisis dan strateginya sudah baik atau belum. Jika merasa hasilnya sudah memuaskan, tentunya tidak boleh puas sampai di situ. Investor perlu memikirkan langkah-langkah baru agar hasil maksimal.
Baik investor atau trader membutuhkan strategi dalam praktik investasi atau tradingnya. Strategi ini biasanya merupakan panduan tentang saham apa yang dibeli, berapa banyak yang dibeli dan kapan menjualnya. Strategi ini perlu direview secara berkala dengan alasan-alasan yang rasional, terukur dan komprehensif biar hasil makin maksinal. Kalau hasil masih kurang memuaskan, strateginya perlu diubah.
Kumpulan saham yang dimiliki disebut dengan portofolio. Mengatur ulang penyusunan saham yang masuk ke portofolio sangat diperlukan untuk menentukan potensi untung-rugi di masa mendatang. Review berkala bermanfaat untuk mengecek dan menentukan saham-sahan mana saja yang layak dipertahankan. Dasar penentuan layak tidaknya suatu saham didasarkan pada analisis fundamental dan teknikal.
SIMAK JUGA: Reksa Dana ETF Makin Marak, Apa Itu ETF dan Bagaimana Cara Belinya?
* Kuy cerdas investasi dan trading dengan artikel edukatif EduFulus.com lainnya di Google News. Dus, jika tertarik menjalin kerjasama dengan EduFulus.com, silakan hubungi tim di WA (0812 8027 7190) atau email: [email protected].
The post Wajib Disiplin Review Saham Berkala, Apa Saja yang Perlu Ditinjau? appeared first on EduFulus - The Path To Financial Freedom.
]]>The post 4 Keuntungan Investasi Sejak Usia Dini Mulai Saat Ini Juga appeared first on EduFulus - The Path To Financial Freedom.
]]>Anggapan bahwa hanya orang-orang kaya yang berinvestasi, itu pemahaman yang benar-benar salah kaprah. Faktanya, berinvestasi itu bisa dilakukan dengan modal yang sangat terjangkau dan oleh siapapun.
Hanya bermodalkan dana sebesar Rp. 100.000,-, seseorang sudah bisa terjun langsung dan mendulang keuntungan dari beragam investasi di pasar modal. Apalagi, berinvestasi di pasar modal itu kini makin mudah. Jadi, anggapan bahwa investasi itu harus selalu dimulai dengan modal besar otomatis gugur.
SIMAK JUGA: 8 Tips Cerdas Memilih Reksa Dana
Logikanya begini. Kalau dalam sebulan saja seseorang bisa mengeluarkan uang sebesar Rp. 100.000 untuk beli pulsa, paket internet hingga rokok, dengan nominal yang sama seharusnya banyak masyarakat Indonesia sudah terjun ke dunia investasi pasar modal. Nyatanya, semua itu masih jauh dari harapan. Masyarakat masih gamang.
Selain salah kaprah soal modal yang gede, pemahaman keliru lainnya yaitu bahwa investasi itu hanya untuk orang pintar. Akibat, banyak orang mengurungkan niatnya karena merasa tidak memiliki pengetahuan cukup tentang pasar modal.
IQ tinggi memang bisa membantu untuk belajar dan mengerti investasi lebih cepat. Fakta di lapangan, investasi tidak melulu ditentukan oleh kepintaran. IQ tinggi tak menjamin kesuksesan dalam berinvestasi. Namun perlu dimengerti, memiliki pengetahuan yang cukup mutlak diperlukan.
SIMAK JUGA: Kelemahan dan Kekurangan Aplikasi Neo HOTS Mobile Besutan Mirae Asset Sekuritas
Kegamangan masyarakat karena pemahamannya yang salah tentang investasi di pasar modal di atas pelan-pelan bakal hilang saat berani dengan tegas memutuskan untuk praktek langsung jadi pemula dalam investasi entaj di reksa dana atau saham sejak dini.
Nah, mengenal dan memulai investasi sejak dini itu memang sangat dianjurkan. Usia muda itu masa-masa produktif. Di masa yang produktif ini, sudah sepantasnya seseorang mengumpulkan aset.
Kenal dengan Warren Buffet? Ia saja memulai investasi di usia yang terbilang masih sangat-sangat muda. Ia memulai investasi sejak berusia 11 tahun. Tentu tak terbayangkan di benak pikiran kita, anak seusia itu sudah terjun ke dunia investasi.
SIMAK JUGA: 10 Tip Memilih Sekuritas Masa Kini yang Terbaik
Tak ada yang salah memulai investasi sejak dini. Ada banyak keuntungan kalau kita mau terjun di dunia investasi sejak dini atau setidaknya saat mulai bekerja dan mengumpulkan uang.
Pertama, semakin dini melakukan investasi, semakin besar keuntungan yang akan diperoleh.
Kedua, disiplin dan tidak terjebak untuk boros dengan uang yang dimiliki karena usia muda itu identik dengan masa hura-hura. Kebiasaan menghamburkan uang untuk sekadar bergaya hidup mewah dan membeli barang-barang yang tak berguna akan terkikis saat kalian memutuskan untuk berinvestasi.
Ketiga, masa depan yang terselamatkan. Dengan investasi, keuntungan jangka panjangnya lebih besar sehingga masa depan akan aman.
Keempat, mewujudkan mimpi besar dan memiliki kebebasan finansial.
SIMAK JUGA: 5 Cara Genjot Kelihaian Investasi Saham buat Milenial
* Kuy cerdas investasi dan trading dengan artikel edukatif EduFulus.com lainnya di Google News. Dus, jika tertarik menjalin kerjasama dengan EduFulus.com, silakan hubungi tim di WA (0812 8027 7190) atau email: [email protected].
The post 4 Keuntungan Investasi Sejak Usia Dini Mulai Saat Ini Juga appeared first on EduFulus - The Path To Financial Freedom.
]]>The post 5 Kebiasaan Buruk Milenial yang Mengancam Masa Depan Keuangan Mereka appeared first on EduFulus - The Path To Financial Freedom.
]]>Boston Consulting Group (BCG) dalam penelitiannya memprediksi jumlah generasi milenial di Indonesia pada 2020 akan mencapai 141 juta orang atau 64 persen dari total populasi Indonesia saat ini. Jumlah yang tidak sedikit.
Prediksi ini memperlihatkan bagaimana generasi milenial bakal mendominasi permasalahan sosial baru berupa budaya konsumerisme seiring dengan peningkatan volume dan nilai transaksi belanja. Apalagi, budaya berbelanja secara online dan cashless di kalangan generasi milenial boleh dikata telah membudaya.
SIMAK JUGA: Yuk, Kenali Bencana Keuangan di Masa Depan Ini
Anak-anak milenial ini memang “gila belanja”. Hasil survei Manulife Investor Sentiment Index pada Q4 2015 lalu bahkan menemukan 53 persen responden yang rata-rata generasi milenial menghabiskan 70 persen dari penghasilan mereka untuk berbelanja dan 10 persen dari responden menghabiskan 90 persen dari penghasilannya untuk berbelanja.
Kemudahan berbelanja menjadi pemicu peningkatan konsumerisme. Generasi milenial yang gandrung belanja ini memang familiar dengan teknologi, mulai dari gadget, internet dan online shopping menemukan cara berbelanja yang praktis.
“Kekinian”, begitu kata yang tepat untuk menggambarkan generasi yang lahir pada rentang 1980-2000 tersebut. Mereka terbiasa berbelanja baik melalui media sosial (facebook, instagram, whatsapp, blackberry messanger) atau disebut dengan social commerce maupun belanja di e-commerce platform yang sudah jauh lebih lengkap sistem pembayarannya karena dukungan financial technology (fintech).
SIMAK JUGA:Jasa Penulisan Artikel Pasar Modal Terpercaya
Nyatanya, istilah kekiniaan dan boros itu tidak beda jauh. Tingkat konsumerisme yang tinggi dari generasi millennial ini tentu membawa dampak serius untuk pengelolaan keuangan pribadi. Besar pasak daripada tiang tak asing lagi bagi generasi milennial. Kisah generasi milennial yang kehabisan uang di tengah bulan bukan hal baru. Nah, biar tidak kebablasan dalam berbelanja, berikut ini kebiasaan yang sebaiknya dihindari generasi millennial:
SIMAK JUGA: 8 Tips Cerdas Memilih Reksa Dana
* Kuy cerdas investasi dan trading dengan artikel edukatif EduFulus.com lainnya di Google News. Dus, jika tertarik menjalin kerjasama dengan EduFulus.com, silakan hubungi tim di WA (0812 8027 7190) atau email: [email protected].
The post 5 Kebiasaan Buruk Milenial yang Mengancam Masa Depan Keuangan Mereka appeared first on EduFulus - The Path To Financial Freedom.
]]>The post Belajar Mengelola Gaji di 5 Pos Utama Ala Superman Asia Li Ka-Shing appeared first on EduFulus - The Path To Financial Freedom.
]]>Li Ka-Shing, pengusaha kelahiran Chaozhou, 29 Juli 1928, memang tidak pelit ilmu. Ia ingin agar siapa pun yang tidak punya kesempatan mengeyam pendidikan yang tinggi seperti dirinya, bisa kaya dan sukses.
Wejangan-wejangannya benar-benar membumi karena lahir dari pengalaman konkret hidupnya. Tak mengherankan, salah satu wejangannya yang gampang dipahami yaitu soal pengelolaan gaji atau penghasilan yang biasa kita terima setiap bulannya.
SIMAK JUGA: Begini Indeks Literasi dan Inklusi Keuangan di Indonesia Terkini
Ia menegaskan apapun yang terjadi dan tidak peduli berapa pun besar penghasilan yang kita terima setiap bulannya, kita harus membaginya ke dalam 5 pos utama. Dengan begitu kita bisa mengatur pengeluaran dengan baik. Berikut ini kelima pos tersebut:
SIMAK JUGA: Jasa Penulisan Artikel Pasar Modal Terpercaya
* Kuy cerdas investasi dan trading dengan artikel edukatif EduFulus.com lainnya di Google News. Dus, jika tertarik menjalin kerjasama dengan EduFulus.com, silakan hubungi tim di WA (0812 8027 7190) atau email: [email protected].
The post Belajar Mengelola Gaji di 5 Pos Utama Ala Superman Asia Li Ka-Shing appeared first on EduFulus - The Path To Financial Freedom.
]]>The post Investasi Reksa Dana dan Saham Sejak Dini Bisa Usir Momok Masa Pensiun appeared first on EduFulus - The Path To Financial Freedom.
]]>Kondisi fisik yang tak sebugar sebelumnya tentu membawa dampak pada kondisi keuangan. Ada “jurang” atau “gap” antara pemasukan dan pengeluaran. Kondisi keuangan tidak akan seperti sebelumnya. Pemasukan semakin berkurang. Pendapatan surut seiring dengan tubuh lambat-laun menjadi lemah dan rentan.
Uniknya, pandangan tentang masa pensiun yang mengerikan belum menghinggapi para pekerja yang masih berusia di bawah usia 50 tahun. Mereka belum tertarik untuk membicarakannya. Mereka masih mengejar idealism-idealisme diri dan acapkali abai dengan pensiun. Padahal, persiapan dari sisi finansial sejatinya perlu dimulai sejak dini. Bahkan, saat seorang pekerja untuk pertama kalinya menerima gaji.
SIMAK JUGA: Waran: Produk Pemanis di Pasar Modal
Ada sejumlah alasan mengapa pensiun perlu dipersiapkan sejak dini. Pertama, kebutuhan hidup setelah memasuki usia pensiun hingga batas umur atau usia harapan hidup sangat besar. Kedua, dana pensiun yang disiapkan oleh pemerintah atau perusahaaan biasanya sangatlah terbatas. Ketiga, tingkat inflasi yang cukup tinggi. Nah, solusi untuk persoalan ini tentu saja perencanaan keuangan yang matang dan investasi yang cermat agar masa pensiun kita terjamin.
Perencanaan Keuangan
Pemerintah atau perusahaan tempat kita bekerja biasanya memang memberikan tunjangan pensiun. Meski harus diakui dananya sangat terbatas, program ini sangat bermanfaat. Kalau tempat kerja tidak memberikan tunjangan pensiun, tak ada salahnya kita mengikuti program dana pensiun lain yang ditawarkan bank.
Program ini cukup membantu menyiapkan tabungan pensiun dengan baik, teristimewa bagi kita yang lemah dalan kontrol keuangan. Program ini mengajarkan kedisiplinan karena program ini biasanya menggunakan sistem autodebet yang langsung memotong saldo di rekening.
Alternatif lain di luar program di atas yaitu tabungan khusus. Pilihan ini memang mensyaratkan konsistensi dan kedispilinan. Tabungan khusus untuk masa pensiun ini sebaiknya benar-benar terpisah. Tabungan ini tidak boleh dicampur-adukkan dengan dana-dana lainnya.
SIMAK JUGA: Reksa Dana ETF Makin Marak, Apa Itu ETF dan Bagaimana Cara Belinya?
Kita bisa menyisihkan setidaknya 10 persen dari total pendapatan untuk tabungan khusus ini. Semakin besar persentase dana yang kita alokasikan untuk masa pensiun, semakin banyak pula simpanan yang dimiliki. Oleh sebab itu, tabungan khusus ini sebaiknya dipersiapkan ketika masih muda. Persiapan masa pensiun tidak boleh dilakukan ketika kita akan pensiun. Dengan begitu, jumlah dana yang didapat untuk hari tua bakal maksimal.
Tak hanya menabung untuk hari tua, sebaiknya kita mulai melunasi utang-utang yang kita miliki. Tentu saja, prioritas pelunasan ini untuk utang yang berbunga besar. Pelunasan utang akan meminimalisir beban tanggungan di masa depan. Sangat dianjurkan, tidak memberesi utang dengan pinjaman atau gali lubang tutup lubang. Pelunasan model begini tidak menyelesaikan persoalan.
Investasi
Selain menabung, baik juga kita memikirkan alternatif lain yaitu investasi. Seperti kita tahu, menabung itu minim bunga. Uang yang kita simpan justru digerogoti inflasi. Kita tinggal memilih. Ada banyak pilihan untuk investasi mulai deposito, logam mulia, properti, bisnis, barang koleksi, reksadana, obligasi dan saham. Masing-masing memiliki kelebihan dan kelebihannya.
Untuk menambah pemasukan selama masa pensiun, kita juga bisa mulai merintis bisnis sampingan sejak dini. Jika pensiun datang, jenis investasi ini diharapkan sudah berkembang.
Namun dari semua jenis investasi tersebut, reksa dana dan saham lah yang memang memiliki daya tarik tinggi karena imbal hasil yang lebih tinggi dari tabungan dan deposito. Selain itu, investasi reksa dana dan saham juga menarik karena modal awal yang dibutuhkan relatif kecil dibandingkan investasi lain seperti properti, bisnis atau emas. (GWK)
SIMAK JUGA: Jasa Penulisan Artikel Pasar Modal Terpercaya
* Kuy cerdas investasi dan trading dengan artikel edukatif EduFulus.com lainnya di Google News. Dus, jika tertarik menjalin kerjasama dengan EduFulus.com, silakan hubungi tim di WA (0812 8027 7190) atau email: [email protected].
The post Investasi Reksa Dana dan Saham Sejak Dini Bisa Usir Momok Masa Pensiun appeared first on EduFulus - The Path To Financial Freedom.
]]>The post Kamu Newbie dalam Investasi Saham, Kuy Simak 5 Tip untuk Pemula Ini appeared first on EduFulus - The Path To Financial Freedom.
]]>Anthony Robbins dalam bukunya Money Master The Game mengulas sejumlah topik menarik terkait kegamangan investasi setelah melakukan wawancara langsung dengan investor top dunia termasuk Warren Buffett, Carl Icahn, Ray Dalio dan John Bogle. Mereka ini sosok-sosok investor yang terbukti optimis dalam investasi. Mereka percaya diri dan tidak takut melangkah dalam investasi.
Mereka berkeyakinan tidak mungkin memiliki bisnis yang luar biasa sukses tanpa mengambil risiko. Kendati demikian, Buffett misalnya mengerti pentingnya mengurangi risiko semaksimal mungkin. Tak mengherankan, Buffett selalu bersikeras bahwa Berkshire Hathaway menyimpan setidaknya US$ 20 miliar uang tunai sebagai jaring pengaman jika terjadi sesuatu di luar perkiraan.
SIMAK JUGA: Siapa Bilang Investasi Saham itu Gratis? Berikut ini Rincian Biayanya
Anthony Robbins menemukan semua orang membenci kehilangan uang, namun para investor seperti Warren Buffett, Carl Icahn, Ray Dalio dan John Bogle ini bahkan lebih terobsesi dengan tidak kehilangan uang dibanding rata-rata orang. Buffett pun secara gamblang menegaskan di Aturan No. 1: Jangan pernah kehilangan uang dan di Aturan No. 2: Jangan pernah melupakan Peraturan No.1.
Tak dipungkiri, banyak dari mereka yang bangkrut di dunia investasi saham dikarenakan gampang terjebak menjadi spekulator yang tak mengerti pentingnya mengurangi risiko semaksimal mungkin. Salah satu contoh konkretnya, banyak dari mereka gampang terjebak bertransaksi saham gorengan tanpa tahu isi perut saham tersebut.
SIMAK JUGA:5 Cara Genjot Kelihaian Investasi Saham buat Milenial
Nah, biar kalian sukses mendulang cuan di pasar saham, berikut ini tip praktis bagi investor saham pemula (newbie) para milenial dalam bertransaksi saham:
SIMAK JUGA:8 Tips Cerdas Memilih Reksa Dana
* Kuy cerdas investasi dan trading dengan artikel edukatif EduFulus.com lainnya di Google News. Dus, jika tertarik menjalin kerjasama dengan EduFulus.com, silakan hubungi tim di WA (0812 8027 7190) atau email: [email protected].
The post Kamu Newbie dalam Investasi Saham, Kuy Simak 5 Tip untuk Pemula Ini appeared first on EduFulus - The Path To Financial Freedom.
]]>The post 5 Cara Genjot Kelihaian Investasi Saham buat Milenial appeared first on EduFulus - The Path To Financial Freedom.
]]>Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) mencatat generasi milenial berusia 21-30 tahun mendominasi investor ritel di pasar modal Indonesia. Persentase investor muda pada penghujung tahun 2018 mencapai 39,72% dari total investor pasar modal yang berjumlah 1,6 juta investor atau sekitar 635.ooo investor.
Sementara itu, investor yang berusia 31-40 tahun mencapai 25,34% dari total investor, investor berusia 41-50 tahun mencapai 18,69%, investor berusia 51-60 tahun 10,69%, dan investor berusia di atas 60 tahun 5,56%. Investor tersebut terdiri dari investor saham, surat utang, reksa dana, surat berharga (SBSN), serta efek lainnya yang tercatat di KSEI.
SIMAK JUGA:Apa itu Buyback Saham dan Seperti Apa Sih Mekanismenya?
Jumlah tersebut mengalami peningkatan yang signifikan dibandingkan kondisi pada 2017. Tahun 2017 persentase investor milenial mencapai 26,2% dari total investor pasar modal yang berjumlah 1,1 juta investor. Sehingga, jumlah investor milenial tahun lalu hanya sekitar 288.000 investor.
Peningkatan ini patut diapresiasi. Harus diakui, antusiasme ini belum diimbangi dengan pengetahuan yang cukup dengan strategi mendulang cuan saham. Nah, biar mahir dalam nabung saham, berikut ini 5 cara yang bisa dipertimbangkan:
SIMAK JUGA: Siapa Bilang Investasi Saham itu Gratis? Berikut ini Rincian Biayanya
* Kuy cerdas investasi dan trading dengan artikel edukatif EduFulus.com lainnya di Google News. Dus, jika ada yang tertarik menjalin kerjasama dengan EduFulus.com, silakan hubungi tim di WA (0812 8027 7190) atau email: [email protected].
The post 5 Cara Genjot Kelihaian Investasi Saham buat Milenial appeared first on EduFulus - The Path To Financial Freedom.
]]>