The post Investasi Saham untuk Orang yang Ngaku Paling Super Sibuk, Why Not, Gampang Tuh Ngakalinnya! appeared first on EduFulus - The Path To Financial Freedom.
]]>Entah mengapa, mereka yang menyandang status karyawan, profesional dan wiraswasta pun ikut-ikutan beranggapan aktivitas investasi saham akan mengganggu, menyedot dan menyita waktu produktif mereka dalam bekerja.
Anggapan di atas membuat mereka menjadi gamang dan ragu untuk memulai investasi saham. Tak heran, banyak dari mereka belum paham atau istilah kekiniannya gagal paham betapa praktis dan mudahnya investasi saham saat ini. Dunia investasi telah berubah dan berevolusi.
SIMAK JUGA: Tip Mengeruk Cuan Window Dressing Saat Akhir Tahun
Kemajuan teknologi menjadi titik tolak inovasi dalam kemudahan investasi saham. Aktivitas jual-beli saham makin gampang dengan smartphone di genggaman tangan. Selain gampang, investasi saham itu juga kian terjangkau sehingga bisa dinikmati oleh siapa pun.
Dengan modal awal sebesar Rp.100.000,- kita sudah bisa memulai investasi saham. Modal yang terjangkau ini toh jauh dari uang rokok atau pulsa bulanan kita yang totalnya bisa lebih dari Rp.100.000.
Dengan modal yang sangat terjangkau ini dua keuntungan siap kita peroleh dalam bentuk capital gain atau selisih antara harga beli dan harga jual dan dividen atau keuntungan yang diberikan suatu perusahaan kepada para pemegang sahamnya.
So, boleh dikata, investasi saham itu benar-benar bisnis yang paling praktis untuk mereka yang super sibuk. Diawali dengan membuka rekening saham yang bisa dilakukan secara online, jual-beli saham pun kini sudah bisa online.
Memang, pasar saham itu buka dan tutup seperti jam kantoran mulai dari Senin sampai Jumat. Mereka yang sibuk dengan kerjaan kantoran merasa sudah tidak punya waktu luang lagi untuk investasi saham. Padahal kalau mau jeli, ada cara jitu untuk memulainya tanpa mengganggu dan menyita jam produktif yang memang harus didedikasikan untuk kantor.
Sebagai pekerja atau profesional yang super sibuk, toh kita tak harus ikut memantengi menit demi menit dan jam demi jam setiap update transaksi di pasar modal saat jam kerja. Praktiknya, kita bisa melakukan aktivitas pembelian dan penjualan saham di luar jam kantor.
Kita bisa melakukan order pembelian dan penjualan pada malam hari untuk pembeliaan atau penjualan saham esok. Dengan begitu, kerjaan dan tanggung jawab kantor tidak terabaikan.
SIMAK JUGA:Analisis Fundamental Tuh Banyak Kelemahannya, Tak Ada Jaminan Datangkan Cuan
Karena kita ingin membeli dan menjual saham tak seperti membeli kucing dalam karung, analisis saham pun bisa dilakukan selepas jam kantor. Berdiskusi dan melakukan analisa bersama-sama dengan teman kantor yang juga terjun ke investasi saham menjadi solusi bijak.
Investasi saham adalah cara paling bijak untuk memiliki bisnis baru tanpa mengganggu aktivitas pekerjaan sebagai karyawan, profesional dan wiraswasta. Kini, tak ada alasan lagi bagi mereka yang merasa hidupnya sudah padat aktivitas untuk tidak menggeluti bisnis yang satu ini.
Nah, untuk merealisasikan mimpi-mimpi kita yang belum tercapai karena kendala dana, tak ada salahnya kita sesegera mungkin memulai investasi saham saat ini dan detik ini juga.
Dengan smartphone di genggaman tangan iapa pun sudah bisa menikmati keuntungan investasi saham hanya dengan 2-3 kali pencet. Kepraktisan ini jelas cocok untuk mereka yang super sibuk. Investasi saham adalah cara paling cepat untuk memiliki bisnis tanpa mengganggu aktivitas pekerjaan asal kita tahu cara mengatasinya.
SIMAK JUGA: Seperti Ini Lho Perbedaan Investor Perempuan dan Laki-laki dalam Investasi Saham
* Kuy cerdas investasi dan trading dengan artikel edukatif EduFulus.com lainnya di Google News. Dus, jika tertarik menjalin kerjasama dengan EduFulus.com, silakan hubungi tim di WA (0812 8027 7190) atau email: [email protected].
The post Investasi Saham untuk Orang yang Ngaku Paling Super Sibuk, Why Not, Gampang Tuh Ngakalinnya! appeared first on EduFulus - The Path To Financial Freedom.
]]>The post Inflasi “Pencuri” Uang Kita di Tabungan appeared first on EduFulus - The Path To Financial Freedom.
]]>Masyarakat Indonesia memang gemar menabung, meski banyak pakar dan konsultan finansial terus menggembar-gemborkan bahwa menabung itu sebenarnya banyak ruginya. Sampai-sampai tokoh sekaliber R.Buckminster Fuller berkata,”Kekayaan kita dicuri melalui uang kita. Mengapa menabung uang?” Fuller jelas tidak senang dengan yang namanya menabung.
Menabung di bank memang mendapatkan bunga. Namun apa daya, masyarakat kita tak banyak yang tahu, meski ada bunga tabungan, uang kita sebenarnya menyusut.. Banyak dari kita hanya sadar sebatas sadar di bibir kalau bunga untuk tabungan itu memang terlalu kecil.
Bagaimana pun inflasi adalah pencuri nilai uang kita. Inflasi lebih tinggi dari bunga tabungan. Inflasi menggerus nilai uang kita. Bunga tabungan terlalu kecil jika dibandingkan dengan inflasi. Uang kita secara nominal memang tidak berubah, tetapi nilai uang merosot seiring dengan pergantian waktu. Tak hanya merosot, kita sejatinya malah minus.
Harus disadari inflasi menjadi “perampok” nilai uang yang kita tabung. Ketika kita menabung, kekayaan kita sebenarnya dicuri oleh Sistem Cadangan Fraksional (Fractional Reserve System). Sistem ini menjadi cara “mencetak uang” yang menyebabkan penabung rugi. Uang diciptakan ketika dipinjam, bukan ketika ditabung.
Sistem tersebut tak hanya menyebabkan inflasi, tetapi juga mengurangi daya beli uang penabung (Robert T. Kiyosaki, Second Change, Untuk Uang, Hidup, dan Dunia Kita, Gramedia: 2016)
Selama ini pun kita terninabobokkan syair lagu lawas milik penyanyi kondang Titik Puspa yang berjudul “Menabung”. Syair lagu ini memang relevan pada zamannya agar orang gemar menabung, tetapi jelas “menipu” untuk zaman ini. Penulis tidak hendak menegasi budaya menabung. Budaya menabung itu harus terus digalakkan. Persoalannya adalah kini sudah saatnya budaya menabung itu bergeser ke model menabung dengan cara baru agar tidak rugi.
“Bing beng bang yok kita ke bank/Bang bing bung yok kita nabung/tang ting tung hey jangan dihitung tau tau nanti kita dapat untung”. Ending syair ini tidak mengenakkan: tau-tau dapat untung, tapi nyatanya: buntung. Lagu yang sempat dipopulerkan oleh Saskia dan Geofani ini relevan di zamannya, tetapi tidak hari ini. Oleh sebab itu, kalau perlu syair itu direkonstruksi secara baru dengan model menabung dengan cara baru.
Anak-anak pun tahu kalau menabung itu banyak potongannya dan ada biaya administrasi ini-itu serta bunga kecil yang sejatinya bakal tergerus inflasi. So, don’t let inflation eats your money!
Namun pertanyaannya kini: kenapa masyarakat kita terlalu nyaman dengan budaya menabung? Kenyamanan ini dibuktikan dengan tingkat inklusi jasa perbankan yang kini mencapai 63,63 persen, sedangkan pasar modal baru di angka 1,25 persen. Orang masih nyaman dengan tabungan dan produk peranakan perbankan.
Para pakar finansial lantas banyak bicara soal solusi pemaksimalan saldo dengan hasil yang melebihi bunga tabungan hingga deposito. Sayangnya, mereka tak mencoba menelaah soal keengganan masyarakat meninggalkan cara menabung lama dari pespektif yang lain dari biasanya.
Sosiolog Emile Durkheim pernah mengelaborasi kasus semacam ini dengan pendekatan fakta sosial. Dalam kerangka berpikir seperti inilah penulis berusaha menyibak kenggengganan masyarakat beranjak dari cara menabung lama yang justru bakal tergerus inflasi. Tak bisa dipungkiri, budaya menabung itu baik. Kita semua sepakat dengan fakta ini. Tapi satu hal yang perlu dicatat di sini, budaya menabung ini harus dikembangkan dengan cara modern yang menguntungkan.
Dalam pandangan Durkheim fakta sosial tidak sama dengan konsep fakta yang dipahami oleh orang awam atau orang kebanyakan (Prof. Dr. Damsar, Pengantar Sosiologi Perkotaan, Kencana Prenadamedia: 2017)
Dalan hidup sehari-hari fakta terkait dengan semua yang tampak dan ditangkap oleh pancaindra (empiris). Namun, fakta sosial ala Durkheim dipahami sebagai semua cara bertindak, berpikir, dan merasa yang ada di luar individu, bersifat memaksa dan umum.
Budaya menabung dalam konteks fakta sosial tak terkait dengan kepentingan dan motif individu yang memang ingin menabung. Kepentingan dan motif merupakan sesuatu yang bersifat internal dari seorang individu, sedangkan gemar menabung sebagai fakta sosial sifatnya eksternal dan memaksa sebagai hasil proses sosialisasi.
SIMAK JUGA: Investasi Reksa Dana dan Saham Sejak Dini Bisa Usir Momok Masa Pensiun
Menabung sebagai hasil proses sosialisasi, selain melalui lagu-lagu seperti karya Titik Puspa di atas, juga internalisasi pentingnya menabung dalam keluarga dan sekolah seperti keharusan menyisihkan uang jajan di celengan atau sepotong ruas bambu. Sosialisasi melalui dunia pendidikan dan keluarga ini sukses benar.
Sifat memaksa secara halus terlihat dari stigma yang dikenakan oleh masyarakat kepada seseorang yang merasa, bertindak dan berperilaku yang tidak sesuai dengan fakta sosial. Kalau tidak menabung, stigma yang melekat adalah pemboros. Internalisasi sukses besar, meski tentu membutuhkan waktu dan tak semudah membalik telapak tangan.
Jalan serupa harus dijalani untuk memoncerkan pemaksimalan hasil saldo. Internalisasi melalui sosialisasi masif perlu dicanangkan di keluarga dan dunia pendidikan agar orang meninggalkan gaya menabung lama dengan model menabung dengan cara baru yang tidak tergerus inflasi. Bunga tabungan tanpa potong ini-itu selayaknya jangan di bawah inflasi atau seharusnya sebesar persentase inflasi karena inflasi adalah harga uang itu sendiri.
So, beragam perusahaaan jasa keuangan kini terus bermunculan seiring dengan perkembangan teknologi. Platform-platform keuangan yang mampu meningkatkan saldo pun bermunculan. Platform-platform modern bisa menjadi solusi untuk menabung dengan cara baru. Don’t let inflation eats your money! (GWK)
* Kuy cerdas investasi dan trading dengan artikel edukatif EduFulus.com lainnya di Google News. Dus, jika ada yang tertarik menjalin kerjasama dengan EduFulus.com, silakan hubungi tim di WA (0812 8027 7190) atau email: [email protected].
The post Inflasi “Pencuri” Uang Kita di Tabungan appeared first on EduFulus - The Path To Financial Freedom.
]]>