
JUDUL: Puan Maharani ‘Gebrak’ Prabowo: APBN Bukan Sekadar Angka, Tapi Jantung Daya Beli Rakyat!
JAKARTA – Pernyataan keras dilontarkan Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI, Puan Maharani, menanggapi pernyataan calon presiden nomor urut 2, Prabowo Subianto, mengenai Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Puan menegaskan bahwa fungsi APBN tidak sesederhana menjaga stabilitas fiskal semata, melainkan memiliki peran krusial dalam menyelamatkan daya beli masyarakat yang saat ini tengah tertekan.
Dalam sebuah kesempatan terpisah, Prabowo Subianto diketahui menyampaikan pandangannya bahwa APBN perlu dikelola dengan hati-hati demi menjaga stabilitas fiskal negara. Pernyataan ini, meskipun terdengar teknis dan berfokus pada kesehatan ekonomi makro, mendapat respons tajam dari Puan Maharani. Ia melihat ada dimensi yang lebih mendasar yang terlewatkan dalam pandangan tersebut, yakni bagaimana APBN secara langsung menyentuh kehidupan ekonomi rumah tangga.
"APBN itu bukan hanya soal menjaga defisit anggaran agar tetap terkendali atau menaikkan pendapatan negara. Itu penting, tentu saja. Tapi, yang paling utama dari APBN adalah bagaimana anggaran tersebut bisa dirasakan langsung oleh rakyat dalam bentuk perbaikan kesejahteraan dan kemampuannya untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari," ujar Puan Maharani dengan nada tegas.
Menurut Puan, di tengah ketidakpastian ekonomi global yang terus membayangi, mulai dari inflasi yang masih tinggi di banyak negara hingga perlambatan pertumbuhan ekonomi, daya beli masyarakat menjadi garda terdepan yang harus dilindungi. APBN, menurutnya, adalah instrumen utama pemerintah untuk memastikan bahwa rakyat tidak terperosok lebih dalam akibat kenaikan harga kebutuhan pokok atau tantangan ekonomi lainnya.
"Ketika harga-harga barang naik, pendapatan masyarakat ada yang stagnan atau bahkan menurun, maka daya beli mereka akan tergerus. Di sinilah peran APBN menjadi sangat vital. Pemerintah harus hadir melalui berbagai program yang disokong APBN, seperti subsidi tepat sasaran, bantuan sosial yang memadai, hingga stabilisasi harga pangan, untuk mencegah terjadinya krisis ekonomi di tingkat rumah tangga," jelas Puan lebih lanjut.
Ia menambahkan, stabilitas fiskal yang sering digaungkan memang menjadi pondasi penting. Namun, stabilitas tersebut haruslah memiliki tujuan akhir untuk kesejahteraan rakyat. Jika APBN hanya fokus pada angka-angka makroekonomi tanpa memberikan dampak nyata pada kemampuan masyarakat untuk membeli kebutuhan dasarnya, maka ia menilai ada yang keliru dalam prioritas pengelolaan anggaran negara.
Puan Maharani menekankan bahwa pemanfaatan APBN haruslah berorientasi pada solusi konkret bagi permasalahan ekonomi yang dihadapi rakyat. Misalnya, bagaimana APBN dapat digunakan untuk menciptakan lapangan kerja yang layak, memberikan pelatihan keterampilan bagi angkatan kerja, hingga memastikan ketersediaan dan keterjangkauan kebutuhan pokok.
"Jangan sampai APBN hanya menjadi angka-angka di atas kertas yang indah, tetapi rakyat merasakan kesulitan luar biasa untuk sekadar membeli beras, minyak goreng, atau membayar listrik. APBN harus menjadi jaring pengaman sosial yang kuat dan efektif," tegasnya.
Puan juga menyentil perlunya kebijakan fiskal yang lebih responsif terhadap dinamika yang terjadi di lapangan. Ia mencontohkan, jika ada indikasi pelemahan daya beli yang signifikan, pemerintah tidak bisa hanya menunggu. APBN harus segera dioptimalkan untuk memberikan stimulus atau bantuan yang dibutuhkan.
"Kita perlu memastikan bahwa APBN kita benar-benar bekerja untuk rakyat. Ini bukan sekadar retorika, tapi sebuah keharusan. Stabilitas fiskal itu penting, tapi menyelamatkan daya beli rakyat adalah prioritas utama yang tidak bisa ditawar," tutup Puan Maharani, seraya berharap agar pengelolaan APBN ke depan lebih berpihak dan memberikan dampak positif yang terukur bagi perekonomian masyarakat luas.
KESIMPULAN:
Pernyataan Puan Maharani menyoroti krusialnya APBN sebagai instrumen penyelamat daya beli masyarakat, tidak hanya sebagai alat stabilisasi fiskal. Ia menekankan bahwa kesejahteraan rakyat harus menjadi prioritas utama dalam pengelolaan anggaran negara, terutama di tengah ketidakpastian ekonomi global yang menekan kemampuan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan hidup. Penggunaan APBN harus berorientasi pada solusi konkret yang berdampak langsung pada kehidupan rumah tangga, seperti subsidi, bantuan sosial, dan stabilisasi harga pangan, agar tidak sekadar menjadi angka di atas kertas namun benar-benar dirasakan manfaatnya oleh seluruh lapisan masyarakat.
