Seluk Beluk Prinsip Islam di Pasar Modal Syariah

Milenial menikmati saham syariah dengan gadget di genggaman tangan (
Milenial menikmati saham syariah dengan gadget di genggaman tangan (EduFulus/Ist)
Jangan Lupa Bagikan!

The Path To Financial Freedom – EduFulus.com – Gaya hidup syariah atau yang teduh terdengar di telinga dengan sebutan halal lifestyle telah menjadi tren global. Karena telah menjadi tren global maka tak ayal gaya hidup ini secara lokal juga menyusup hingga ke pelosok-pelosok desa.

Gaya hidup syariah hadir sebagai bentuk negasi sekaligus kejenuhan masyarakat dengan gaya hidup hedonisme yang membawa semacam “virus” di Era Revolusi Industri 4.0 dengan ciri khasnya pada penekanan pola digital economy, artificial intelligence, big data, robotic, dan lain sebagainya atau dikenal dengan fenomena disruptive innovation yang menggerogoti nilai-nilai kehidupan.

Hedonisme gampang tercipta karena kecanggihan teknologi. Sayangnya, semakin tech-savvy, tak jarang seseorang semakin terasing pula dengan lingkungannya sekitar. Ia sibuk dengan dunianya sendiri hingga sampai pada tahap kehampaan hidup. Spirit hidup pun menjadi seperti tanpa arah alias menjadi hedonis yang hidup dalam kehampaan.

SIMAK JUGA: Inilah 6 Jenis Produk Syariah di Pasar Modal Indonesia

Karena itulah, nilai-nilai spiritual (spiritual value) pun mendapatkan posisi sentralnya dalam kehidupan yang serba teknologi ini. Masyarakat terpikat pada produk dan jasa yang menjalankan kepatuhan (compliance) pada nilai-nilai dan ajaran-ajaran agama Islam yang menekankan pada gaya hidup syariah.

Semua ini terjadi karena masyarakat percaya halal lifestyle membawa ketenangan, kenyamanan dan “keademan” jiwa karena di dalamnya ada makna religius terkandung. Hadirnya berbagai merek Islami seperti pada busana dan kosmetik merupakan fenomena sebuah tren ekonomi syariah yang menyentuh sisi kemanusiaan. Ada makna religi di dalamnya.

Tak hanya fashion mode syariah, kosmetik, konsep hotel dan pariwisata halal, layanan keuangan syariah pun makin marak dan digandrungi masyarakat, tak terkecuali di pasar modal Indonesia.

Pasar Modal Syariah

Pasar modal syariah di Indonesia tak terpisahkan dengan sistem pasar modal secara keseluruhan. Bedanya, pasar modal syariah hadir dengan nilai-nilai religiusitas dalam memahami uang dan kekayaan.

Para penggagas pasar modal syariah mamahami betul bahwa uang atau kekayaan perlu diperoleh melalui aturan-aturan agama baik secara langsung maupun tidak langsung. Karena pada dasarnya cerdas finansial tak semata-semata pandai mengakumulasi uang dan kekayaan, tetapi perlu dipahami bagaimana uang diperoleh.

Secara spiritual ada dasar keyakinan: hanya ada satu jalan keselamatan yaitu menjadi orang yang beruntung, yang mendapatkan dan menggunakan uang dan kekayaan dengan benar.

Eko P. Pratomo menyebutkan empat kategori bagaimana orang memperoleh dan menggunakan uang dan kekayaannya dalam bukunya “50 Financial Wisdom“. Pertama, orang beruntung adalah mereka yang mendapatkan dan menggunakan uang dengan benar. Kedua, orang yang merugi adalah orang yang mendapatkan dengan benar, tetapi menggunakannya dengan tidak benar. Ketiga, orang yang celaka adalah orang yang mendapatkan tidak dengan cara benar, tetapi menggunakannya dengan benar dan Keempat, orang yang celaka dan merugi adalah orang yang mendapatkan dan menggunakannya dengan tidak benar.

Pemahaman syariah dalam kontek pasar modal tentu merujuk pada kegiatan usaha yang jauh dari perjudian dan permainan yang tergolong judi, perdagangan yang tidak disertai dengan penyerahan barang atau jasa, perdagangan dengan penawaran atau permintaan palsu, bank berbasis bunga, perusahaan pembiayaan berbasis bunga, hingga jual beli risiko yang mengandung unsur ketidakpastian (gharar) dan/atau judi (maisir), antara lain asuransi konvensional.

Tak hanya itu saja, kegiatan usaha pun harus jauh dari produksi, distribusi, perdagangan dan/atau penyediaan barang atau jasa haram zatnya (haram li-dzatihi), barang atau jasa haram bukan karena zatnya (haram li-ghairihi) yang ditetapkan oleh DSN-MUI dan/atau barang atau jasa yang merusak moral dan bersifat mudarat. Selanjutnya kegiatan usahanya pun tidak boleh berkaitan dengan transaksi yang mengandung unsur suap (risywah).




Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*